WOMEN IN A NEW LAND: MENITI JEJAK PENGALAMAN HIDUP PEREMPUAN TRANSMIGRAN DI DISTRIK MUTING, MERAUKE
Andaru Sheera Kristianto, Milda Longgeita Br. Pinem, S.Sos., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara narasi makro pembangunan dalam kebijakan transmigrasi dengan realitas pengalaman subjektif masyarakat sebagai subjek pembangunan. Dalam konteks Kawasan Transmigrasi Distrik Muting, Merauke, Papua Selatan, perempuan transmigran menghadapi dinamika kehidupan yang kompleks di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan struktural. Kompleksitas tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pada Kawasan transmigrasi, tetapi juga oleh persilangan berbagai lapisan identitas yang membentuk pengalaman hidup serta kerentanan perempuan transmigran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman hidup perempuan transmigran dengan menelaah bagaimana peran interseksionalitas membentuk pengalaman mereka sekaligus mengidentifikasi strategi bertahan hidup yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, hingga analisis dokumen dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hidup dari perempuan transmigran sangat dinamis dan beragam, dibentuk oleh persilangan identitas seperti gender, usia, status migran, kelas sosial, peran gender, kemampuan, peran dalam keluarga, pekerjaan, dan posisi sosial. Penelitian juga menemukan bahwa implementasi kebijakan transmigrasi tidak selalu sejalan dengan realitas, dimana berbagai tantangan memunculkan kerentanan baru seperti keterbatasan akses, kerentanan sosial dan ekonomi, hingga tekanan peran ganda. Dalam menghadapi kondisi tersebut, perempuan transmigran menunjukkan ketangguhan melalui berbagai strategi bertahan hidup, seperti diversifikasi pendapatan, pengelolaan keuangan, pemanfaatan jejaring sosial, dan penguatan nilai religius. Penelitian ini mendorong kebijakan transmigrasi untuk mengadopsi pendekatan yang lebih peka terhadap pengalaman subjektif serta keragaman kondisi perempuan untuk menciptakan implementasi dari kebijakan transmigrasi yang lebih inklusif serta berbasis terhadap kondisi maupun permasalahan kontekstual. Pendekatan kebijakan yang terlalu normatif tanpa adanya keberpihakan terhadap subjek pembangunan justru berpotensi mereproduksi kerentanan baru.
This study stems from the gap between the macro-level narrative of development in transmigration policy and the reality of the subjective experiences of communities as the subjects of development. In the context of the Kawasan Transmigrasi Distrik Muting, Merauke, Papua Selatan, transmigrant women face complex life dynamics amid various limitations and structural challenges. These complexities are influenced not only by conditions within the transmigration area, but also by the intersections of multiple layers of identities that construct the life experiences and vulnerabilities of transmigrant women. This study aims to explore the life experiences of transmigrant women by examining the role of intersectionality forms their experiences while also identifying the survival strategies they have developed. This research employs a qualitative phenomenological approach, with data collection through observation, in-depth interviews, and analyzing the documents and documentation. The findings reveal that the life experiences of transmigrant women are highly dynamic and diverse, formed by the intersecting identities such as gender, age, migrant status, social class, gender roles, ability, roles in the family, occupation, and social position. The study also finds that the implementation of transmigration policy does not always align with reality, as various challenges generate new vulnerabilities including limited access, social and economic vulnerabilities, and the pressure of double burdens. In response to these conditions, transmigrant women demonstrate resilience through various survival strategies, such as income diversification, financial management, leveraging social networks, and strengthening religious values. This study advocates transmigration policy to adopt an approach that is more sensitive to women’s subjective experiences and the diversity of their circumstances, thereby fostering the implementation of transmigration policies that are more inclusive and grounded in contextual conditions and challenges. A policy approach that is overly normative without commitment to the subjects of the development risks reproducing new vulnerabilities.
Kata Kunci : Interseksionalitas, Transmigrasi, Pengalaman Hidup, Perempuan Transmigran, Strategi Bertahan Hidup