Relokasi pedagang dari Zona 2 Kawasan Wisata Candi Borobudur ke Kampung Seni Borobudur membawa perubahan besar dalam kehidupan ekonomi dan sosial pedagang. Kebijakan penataan kawasan wisata yang berorientasi pada konservasi tidak hanya memindahkan lokasi berdagang, tetapi juga mengubah akses pedagang terhadap ruang usaha, arus pengunjung, serta peluang penghidupan mereka. Dalam situasi ini, pedagang dihadapkan pada berbagai tantangan untuk menyesuaikan diri, terutama dalam mempertahankan keberlangsungan mata pencaharian setelah relokasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses relokasi berlangsung serta bagaimana dampak dan strategi adaptasi pedagang dalam mempertahankan penghidupan mereka pascarelokasi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Kampung Seni Borobudur, Kabupaten Magelang. Informan dalam penelitian ini merupakan pedagang yang terdampak relokasi, yang dipilih secara purposive dan dikembangkan dengan teknik snowball. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi pustaka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan perspektif forced displacement untuk memahami relokasi sebagai proses yang tidak sepenuhnya bersifat sukarela. Selain itu, penelitian ini juga melihat dinamika penghidupan pedagang melalui pendekatan strategi penghidupan, yang menekankan pada kemampuan individu dalam memanfaatkan aset, jaringan sosial, dan peluang ekonomi untuk bertahan dalam kondisi perubahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses relokasi tidak sepenuhnya berjalan secara partisipatif dan menyisakan berbagai persoalan bagi pedagang. Pascarelokasi, pedagang mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya akses terhadap pengunjung dan ketidakmerataan lokasi kios. Selain itu, relokasi juga berdampak pada melemahnya relasi sosial antar pedagang serta munculnya tekanan psikologis dalam menghadapi kondisi baru. Kondisi ini mencerminkan adanya perubahan akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial yang sebelumnya menjadi penopang utama penghidupan pedagang. Dalam menghadapi situasi tersebut, pedagang melakukan berbagai strategi adaptasi, seperti mencari sumber pendapatan tambahan, melakukan pembagian hasil usaha, memanfaatkan jaringan sosial, serta membangun solidaritas antar sesama pedagang. Strategi-strategi ini menunjukkan bagaimana pedagang mengelola sumber daya yang dimiliki untuk mempertahankan keberlangsungan hidup di tengah perubahan yang terjadi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa relokasi pedagang di Borobudur merupakan bentuk forced displacement yang berdampak pada perubahan struktur penghidupan dan meningkatnya kerentanan pedagang. Meskipun pedagang mampu beradaptasi, keberlanjutan penghidupan mereka masih berada dalam kondisi yang tidak stabil. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih partisipatif dan berorientasi pada keberlanjutan penghidupan masyarakat lokal dalam proses penataan kawasan wisata.
The relocation of street vendors from Zone 2 of the Borobudur Temple Tourism Area to Kampung Seni Borobudur has brought significant changes to the economic and social lives of the vendors. The tourism area restructuring policy, which is oriented toward conservation, does not merely involve the physical relocation of trading spaces, but also reshapes vendors’ access to business locations, visitor flows, and livelihood opportunities. In this context, vendors are confronted with various challenges in adjusting to new conditions, particularly in sustaining their sources of income after relocation. Therefore, this study aims to examine how the relocation process unfolded, as well as to understand its impacts and the strategies adopted by vendors to maintain their livelihoods in the post-relocation setting.
This study employs a qualitative method with a descriptive approach. The research was conducted in Kampung Seni Borobudur, Magelang Regency. Informants consist of vendors affected by the relocation, selected through purposive sampling and further developed using the snowball technique. Data were collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature review. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. This study applies the perspective of forced displacement to understand relocation as a process that is not entirely voluntary. In addition, it examines the dynamics of vendors’ livelihoods through a livelihood strategy approach, emphasizing how individuals utilize assets, social networks, and economic opportunities to survive amid changing conditions.
This study concludes that the relocation of vendors in Borobudur constitutes a form of forced displacement that leads to transformations in livelihood structures and increased vulnerability among vendors. Although vendors demonstrate adaptive capacities, the sustainability of their livelihoods remains uncertain. Therefore, more participatory and livelihood-oriented policies are needed in managing tourism area restructuring, particularly to ensure the well-being of local communities.
Kata Kunci : relokasi pedagang, forced displacement, Candi Borobudur, Kampung Seni Borobudur, penghidupan masyarakat