Hubungan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Pasien Glaukoma
Raissa Nabila Alfani, Haryani, S.Kp., M.Kes., Ph.D.; Syahirul Alim, S.Kp., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN
Latar Belakang: Glaukoma menyebabkan rusaknya fungsi penglihatan
irreversibel yang berujung kepada kebutaan. Hal ini memicu depresi pada pasien glaukoma, terutama pada tahap awal
diagnosis akibat ketakutan akan kehilangan penglihatan, efek samping
pengobatan, dan beban finansial. Selain itu, penurunan fungsi penglihatan ini
juga berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas hidup pasien.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan depresi dengan kualitas hidup
pada pasien glaukoma
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional.
Total responden penelitian sebanyak 94 pasien. Kuesioner yang digunakan yaitu Patient
Health Questionnaire-9 (PHQ-9) dan Glaucoma Quality of Life-15
(GQL-15). Kriteria
inklusi meliputi pasien berusia >18 tahun, bersedia berpartisipasi, dan
mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Kriteria eksklusi yaitu pasien
dengan komplikasi penyakit mata lainnya. Analisis data dilakukan dengan uji
Spearman Rank.
Hasil: Sebagian besar responden pada
kategori depresi minimal (80,9%) atau tidak terdiagnosis depresi dan mayoritas
kualitas hidup baik (78,7%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan signifikan
(p-value <
0>dan kekuatan hubungan lemah (r = 0,39) antara
depresi dengan kualitas hidup pasien glaukoma.
Kesimpulan:
Mayoritas responden berada pada kategori depresi
minimal dan memiliki kualitas hidup yang baik. Terdapat hubungan antara depresi
dengan kualitas hidup pada pasien glaukoma, dimana semakin tinggi skor depresi
maka semakin rendah kualitas hidup.
Background: Glaucoma
causes irreversible visual impairment, leading to blindness. This can trigger
depression in glaucoma patients, especially in the early stages of diagnosis,
due to fear of vision loss, treatment side effects, and financial burdens. Visual impairment also
significantly contributes to decreased quality of life.
Objective: To determine the
relationship between depression and quality of life in glaucoma patients.
Methods: This is a correlational
analytic study with a cross-sectional approach involved 94 glaucoma patients. Data were collected using Patient
Health Questionnaire-9 (PHQ-9) for depression screening and Glaucoma Quality of
Life-15 (GQL-15) for quality of life assessment. Inclusion criteria were
patients aged ?18 years, willing to participate, and able to communicate in
Indonesian. Exclusion criteria included patients with
complications from other eye diseases. Data
analysis used Spearman Rank test.
Results: Most respondents were in the
minimal depression category (80,9%) or were not clinically diagnosed with
depression, and most had a good quality of life (78,7%). Correlation test
results showed a significant relationship (p < 0 xss=removed>
Conclusion: The
majority of respondents were in the minimal depression category and had a good
quality of life. There is a correlation between depression and quality of life
in glaucoma patients, with higher depression scores indicating a lower quality
of life.
Kata Kunci : depresi, glaukoma, kualitas hidup