Laporkan Masalah

Subjective Well-Being Pasangan Suami Istri Peserta Marriage Encounter (ME) di Distrik V Purwokerto, Jawa Tengah

Alusia Trisnadewi Ardika Sari, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si

2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Kehidupan perkawinan modern menghadapi tantangan multidimensional yang semakin kompleks, mulai dari tekanan ekonomi, pergeseran norma sosial-budaya, hingga degradasi kualitas komunikasi akibat disrupsi teknologi digital, menempatkan keluarga dalam posisi rentan. Sebagai institusi fundamental dalam pembangunan sosial, kualitas relasi dalam keluarga menjadi penentu utama kesejahteraan sosial dan ketahanan masyarakat secara luas. Dalam konteks ini, gerakan Marriage Encounter (ME) hadir sebagai pilihan relasional yang menekankan pentingnya komunikasi dari hati ke hati melalui praktik dialog. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kesejahteraan subjektif pasangan suami istri peserta ME di Distrik V Purwokerto.

Kerangka teoretis penelitian ini mengacu pada konsep Subjective Well-Being (SWB) oleh Ed Diener yang mencakup evaluasi kognitif berupa kepuasan hidup serta komponen afektif yang meliputi pengalaman emosi positif dan negatif. Selain itu, kajian ini mengintegrasikan perspektif kesejahteraan keluarga dan teologi perkawinan Katolik sebagai landasan analisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif pasangan secara mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 11 pasangan suami istri peserta ME Distrik V Purwokerto, observasi partisipan pada kegiatan komunitas, serta dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif pasangan peserta Marriage Encounter (ME) di Distrik V Purwokerto ditentukan oleh kondisi keluarga dan cara pasangan menjalani relasi sehari-hari. Spiritualitas iman Katolik ditemukan sebagai sumber utama kepuasan hidup. Segala aspek, mulai dari kemandirian anak hingga keharmonisan relasi, dihayati sepenuhnya sebagai berkat dan rencana Tuhan. Pasangan mengalami perasaan positif melalui kebersamaan dalam keluarga, komunikasi yang hangat, dan kebiasaan saling mengampuni. Pasangan tetap mengalami emosi negatif, terutama saat terjadi perbedaan pendapat dan tekanan ekonomi. Namun, pasangan mampu mengelola konflik dengan menenangkan diri dan segera membangun kembali komunikasi setelah situasi mereda.

Kesejahteraan subjektif tidak dipahami sebagai kondisi tanpa masalah, melainkan sebagai kemampuan pasangan untuk menjaga dan memperbaiki relasi secara terus-menerus. Dalam hal ini, dialog menjadi praktik utama yang membantu pasangan untuk saling terbuka, memahami perasaan satu sama lain, serta menyelesaikan konflik. Proses ini juga diperkuat oleh keterlibatan dalam komunitas ME, yang memberikan dukungan emosional, ruang berbagi pengalaman, serta memperkuat komitmen pasangan dalam menjalani kehidupan perkawinan. Dengan demikian, kesejahteraan subjektif pasangan peserta ME di Distrik V Purwokerto terbentuk melalui pengalaman relasi sehari-hari yang diwarnai oleh upaya saling memahami, pengelolaan emosi, praktik dialog, dukungan komunitas, dan penghayatan iman.

Modern marital life faces increasingly complex multidimensional challenges, ranging from economic pressures and shifts in socio-cultural norms to the degradation of communication quality due to digital technology disruption, placing families in a vulnerable position. As a fundamental institution in social development, the quality of family relationships is a primary determinant of social welfare and broader community resilience. In this context, the Marriage Encounter (ME) movement emerges as a relational choice emphasizing heart-to-heart communication through the practice of dialogue. This study aims to understand the subjective well-being of married couples participating in ME in District V Purwokerto.

The theoretical framework of this research refers to the concept of Subjective Well-Being (SWB) by Ed Diener, which includes cognitive evaluations in the form of life satisfaction and affective components encompassing positive and negative emotional experiences. Additionally, this study integrates perspectives on family welfare and Catholic marital theology as analytical foundations. This research employs a qualitative method with a case study design to explore the couples' subjective experiences in depth. Data were collected through interviews with 11 married couples participating in ME District V Purwokerto, participant observation in community activities, and documentation. The data were then analyzed using thematic analysis techniques.

The findings of this study indicate that the subjective well-being of couples participating in Marriage Encounter (ME) in District V Purwokerto is determined by family conditions and the way couples manage their daily relationships. Catholic faith spirituality was found to be the primary source of life satisfaction. All aspects, from children's independence to relational harmony, are fully lived as God's blessing and plan. Couples experience positive feelings through family togetherness, warm communication, and the habit of mutual forgiveness. While couples still experience negative emotions, especially during differences of opinion and economic pressure, they are able to manage conflicts by calming themselves and immediately rebuilding communication after the situation subsides.

Subjective well-being is not understood as a condition without problems, but rather as the couples' ability to continuously maintain and improve their relationship. In this regard, dialogue becomes the primary practice that helps couples be open, understand each other's feelings, and resolve conflicts. This process is further strengthened by involvement in the ME community, which provides emotional support, a space for shared experiences, and reinforces the couples' commitment to their marital life. Thus, the subjective well-being of ME participant couples in District V Purwokerto is formed through daily relational experiences characterized by mutual understanding, emotional management, the practice of dialogue, community support, and the actualization of faith.


Kata Kunci : Kesejahteraan Subjektif, Subjective Well-Being, Pasangan Suami Istri, Marriage Encounter, Perkawinan Katolik, Kesejahteraan Keluarga

  1. S1-2026-503869-abstract.pdf  
  2. S1-2026-503869-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-503869-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-503869-title.pdf