Daya Antihelmintik Perasan Daun Lidah Buaya (Aloe Vera L.) dan buah Pare (Momordica Charantia L.) terhadap Cacing Tambang In Vitro
Toto Sugianto , Dra. Sri Sumarni, DAP&E., SU.; dr. Umayah, DAP&E
1994 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERPenyakit cacing tambang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, karena prevalensinya masih cukup tinggi terutama di beberapa daerah endemik. Salah satu penyebab masih tingginya prevalensi cacing tambang di Indonesia adalah masih belum terjangkaunya obat-obat cacing tambang oleh sebagian besar masyarakat pedesaan karena harga obat yang relatif mahal. Untuk itu perlu dicari alternatif pengobatan lain untuk pengobatan cacing tambang. Diharapkan buah pare (Monordica charantia L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) dapat dijadikan obat alternatif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan khasiat buah pare (Momordica charantia L.) dan daun lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai obat cacing tambang secara ilmiah. Penelitian dilakukan secara eksperimental in vitro dengan teknik perendanan terhadap cacing tambang anjing, dengan nenggunakan 10 kelompok perlakuan, yaitu : 4 kelompok perasan buah pare dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 10% dan 4 kelompok perasan daun lidah buaya dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 10% serta 1 kelompok pirantel pamoat 0,236% sebagai pembanding ditambah 1 kelompok larutan garam fisiologis sebagai kontrol. Lamanya pengamatan ditentukan dengan hasil percobaan pendahuluan lama hidup cacing tambang dalam larutan garam fisiologis (18,332,33 jam), yang diamati setiap jam. Dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Kemudian rerata jumlah yang mati setiap jam dan rerata waktu kematian tambang tiap kelompok perlakuan dianalisis secara statistik dengan uji analisis varian dan dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda Tukey's test HSD. waktu cacing cacing Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan buah pare 100%, buah pare 50%, lidah buaya 100%, dan lidah buaya 50% mempunyai daya antihelmintik. Dan secara statistik antara perlakuan tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p > 0,05) baik rerata jumlah kematian cacing tambang tiap jam dan rerata waktu kematiannya. Namun satu-satunya perlakuan yang tidak berbeda bernakna (P > 0,05) dengan pirantel pamoat 0,236% adalah buah pare 100%, sehingga dapat dinyatakan bahwa daya antihelmintik buah pare 100% lebih kuat dari buah pare 50%, lidah buaya 100% dan lidah buaya 50%. Sedangkan perasan buah pare 25%, buah pare 10%, lidah buaya 25% dan, lidah buaya 10% menunjukkan perbedaan yang bermakna (p <0,05) dengan pirantel panoat 0,236%, namun dengan larutan garan fisiologis tidak berbeda bernakna (P > 0,05) baik rerata jumlah kematian cacing tambang naupun rerata waktu kematiannya. Kandungan senyawa aktif dalam buah pare (Monordica charantia L.) yang mempunyai daya antihelmintik adalah saponin. Sedangkan dalam daun lidah buaya (Aloe vera L.) mungkin saponin atau senyawa lain yang belum dapat diidentifikasi sebagai antihelmintik, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.
-
Kata Kunci : Penyakit cacing tambang, buah pare, daun lidah buaya, daya antihelmintik