KEBERLANJUTAN FASILITASI KUMBUNG JAMUR DAN BIOFLOK LELE PADA KWT KALURAHAN CONDONGCATUR KAPANEWON DEPOK KABUPATEN SLEMAN
Khairani Nabilah, Ratih Ineke Wati, S.P., M.Agr., Ph.D.
2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN
Kalurahan Condongcatur merupakan wilayah peri-urban dengan laju alih fungsi lahan pertanian yang masif akibat urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini menyebabkan keterbatasan lahan pertanian sehingga kemandirian pangan di tingkat rumah tangga menjadi krusial untuk dikembangkan melalui optimalisasi lahan sempit. Sebagai implementasi dari kebijakan penggunaan Dana Desa untuk ketahanan pangan, pemerintah memfasilitasi Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan kumbung jamur dan bioflok lele. Keberlanjutan kegiatan ini sangat diperlukan untuk memastikan ketersediaan pangan yang mandiri dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Tingkat keberlanjutan kegiatan ketahanan pangan melalui fasilitasi kumbung jamur dan bioflok lele di KWT Kalurahan Condongcatur, dan 2) Faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pencatatan terhadap 60 anggota KWT yang terpilih sebagai responden. Data dianalisis menggunakan uji proporsi (Z-test) dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 60% anggota KWT memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi. Keberlanjutan ini didukung paling kuat oleh dimensi sosial, diikuti dimensi lingkungan, dan dimensi ekonomi. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi keberlanjutan kegiatan adalah motivasi, peran penyuluh, peran kelompok wanita tani, dan efektivitas kegiatan. Sementara itu, faktor umur dan tingkat pendidikan ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan kegiatan ketahanan pangan di lokasi penelitian.
Condongcatur Village is a peri-urban area experiencing massive agricultural land conversion due to urbanization and high population growth. This results in limited agricultural land, making household-level food self-sufficiency crucial to develop through small-scale land optimization. As an implementation of the Village Fund policy for food security, the government facilitates Women Farmer Groups (KWT) with mushroom houses (kumbung) and catfish biofloc. The sustainability of these activities is essential to ensure independent and sustainable food availability for the local community.This study aims to determine: 1) The level of sustainability of food security activities through mushroom house and catfish biofloc facilitation in KWT of Condongcatur Village, and 2) The factors affecting the sustainability of these activities. This research uses a descriptive quantitative approach. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation involving 60 KWT members as respondents. Data were analyzed using the proportion test (Z-test) and multiple linear regression analysis. The results showed that more than 60% of KWT members had a high level of sustainability. This sustainability is most strongly supported by the social dimension, followed by the environmental and economic dimensions. Regression analysis results indicate that factors that significantly influence activity sustainability are motivation, the role of extension agents, the role of women farmer groups, and activity effectiveness. Meanwhile, age and education level were found to have no significant effect on the sustainability of food security activities in the study location.
Kata Kunci : Keberlanjutan Kegiatan, Ketahanan Pangan, Kelompok Wanita Tani (KWT), Kumbung Jamur, Bioflok Lele.