Laporkan Masalah

Hidup sebagai Minoritas: Tantangan Sosial-Keagamaan Saksi-Saksi Yehuwa dan Mormon dalam Mempertahankan Identitas Denominasi di Yogyakarta

Felix Jethro Lerrick, Dr. Lambang Trijono

2026 | Skripsi | Sosiologi

Saksi Yehuwa dan Mormon di Yogyakarta menghadapi posisi unik sebagai minoritas ganda, tidak hanya dalam konteks mayoritas Muslim tetapi juga mengalami marginalisasi dari komunitas Kristen mainstream yang menganggap ajaran mereka menyimpang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis pengalaman sosio-religius Saksi Yehuwa dan Mormon sebagai minoritas di Yogyakarta, mengkaji pola relasi sosial mereka dengan masyarakat sekitar, serta mengidentifikasi strategi adaptasi yang digunakan untuk mempertahankan identitas denominasi di tengah tekanan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan anggota kedua komunitas, observasi partisipan pasif terhadap aktivitas keagamaan dan interaksi sosial, serta analisis dokumentasi terkait. Validitas data dipastikan melalui triangulasi sumber dan metode. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok menghadapi tekanan asimetris dari dua arah berbeda. Tekanan dari komunitas Kristen mainstream bersifat teologis dan eksplisit, terutama terkait penolakan doktrin Trinitas, sementara tekanan dari mayoritas Muslim lebih bersifat sosiologis dengan ketidakpedulian teologis yang paradoksnya memberikan ruang lebih luas untuk aktivitas keagamaan. Saksi Yehuwa mengadopsi strategi visibilitas rendah dengan menggunakan ruang ibadah sewaan dan pelayanan door-to-door yang sering dipersepsikan intrusif, sedangkan Mormon menerapkan strategi visibilitas tinggi dengan mendirikan gereja permanen di lokasi strategis dan menawarkan layanan sosial seperti kelas bahasa Inggris dan cuci mobil gratis. Temuan penting lainnya adalah bahwa tekanan eksternal justru memperkuat solidaritas internal dan identitas kelompok melalui mekanisme religious coping, di mana stigma sosial di reinterpretasi sebagai ujian iman yang memvalidasi status mereka sebagai pengikut sejati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa toleransi di Yogyakarta bersifat pasif, berupa koeksistensi damai tanpa penerimaan penuh atau pengakuan bermakna. Marginalisasi tidak melemahkan identitas kelompok tetapi justru memperkuatnya melalui pemeliharaan batas yang lebih ketat, mengkonfirmasi teori identitas sosial dan pemeliharaan batas. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memahami dinamika minoritas ganda dalam konteks pluralisme religius Indonesia dan perlunya pengembangan kerangka teoritis yang lebih bernuansa untuk memahami relasi antar agama dalam masyarakat plural.

Jehovah's Witnesses and Mormons in Yogyakarta face a unique position as dual minorities, not only within a Muslim majority context but also experiencing marginalization from the mainstream Christian community, which considers their teachings deviant. This study aims to describe and analyze the socio-religious experiences of Jehovah's Witnesses and Mormons as minorities in Yogyakarta, examine their social relations with the surrounding community, and identify the adaptation strategies they use to maintain their denominational identity amidst social pressures. This study uses a qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through in-depth interviews with members of both communities, passive participant observation of religious activities and social interactions, and analysis of related documentation. Data validity was ensured through triangulation of sources and methods. The research findings indicate that both groups face asymmetrical pressures from two different directions. Pressure from the mainstream Christian community is theological and explicit, particularly regarding the rejection of the doctrine of the Trinity, while pressure from the Muslim majority is more sociological, with theological indifference that paradoxically provides greater space for religious activity. Jehovah's Witnesses adopt a low-visibility strategy using rented worship spaces and door-to-door ministry, often perceived as intrusive, while Mormons employ a high-visibility strategy by establishing permanent churches in strategic locations and offering social services such as English classes and free car washes. Another important finding is that external pressure actually strengthens internal solidarity and group identity through religious coping mechanisms, where social stigma is reinterpreted as a test of faith that validates their status as true believers. This study concludes that tolerance in Yogyakarta is passive, taking the form of peaceful coexistence without full acceptance or meaningful recognition. Marginalization does not weaken group identity but rather strengthens it through tighter boundary maintenance, confirming theories of social identity and boundary maintenance. The implications of this study emphasize the importance of understanding the dynamics of multiple minorities in the context of Indonesian religious pluralism and the need to develop a more nuanced theoretical framework for understanding interfaith relations in a pluralistic society.

Kata Kunci : Minoritas Ganda, Saksi Yehuwa, Mormon, Toleransi Beragama, Identitas Denominasi

  1. S1-2026-481632-abstract.pdf  
  2. S1-2026-481632-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-481632-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-481632-title.pdf