Strategi Pencegahan dan Penanganan Perundungan Anak Usia Dini dalam Upaya Pemenuhan Hak Perlindungan Anak: Studi Kasus di Sekolah Perintis Peradaban, Kabupaten Magelang
Olga Philia Gunawan, Nurhadi, S.Sos., M.Si. Ph.D
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Perundungan pada anak usia dini merupakan isu perlindungan anak yang serius dan mendesak, namun kajiannya di lingkungan PAUD nonformal wilayah pedesaaan masih terbatas. Urgensi ini semakin nyata dalam konteks lokal, mengingat Kabupaten Magelang mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, sementara Jawa Tengah termasuk dalam lima provinsi dengan tingkat kasus kekerasan terhadap anak tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami bagaimana strategi pencegahan dan penanganan diterapkan serta dimaknai oleh warga sekolah di Sekolah Perintis Peradaban, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan kajian pustaka yang melibatkan orang tua, fasilitator, dan kepala sekolah sebagai informan. Data kemudian dianalisis menggunakan model interaktif berkelanjutan yang diinterpretasikan melalui perspektif Teori Sistem Ekologi dan Model Pencegahan Tiga Tingkat.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa informan memahami perundungan bukan sebagai perilaku yang semata-mata didorong oleh niat menyakiti, melainkan sebagai fenomena yang terbentuk melalui interaksi karakteristik perkembangan anak, kematangan sensori-motorik, dan faktor lingkungan. Analisis ekologis mengidentifikasi bahwa mikrosistem dan mesosistem merupakan tingkatan yang paling krusial dalam pembentukan perilaku perundungan pada anak usia dini. Pola pengasuhan dan dinamika interaksi sekolah sebagai mikrosistem secara langsung membentuk kapasitas regulasi emosi dan empati anak, sementara konsistensi nilai antara keduanya pada level mesosistem menentukan sejauh mana perilaku prososial dapat terinternalisasi secara stabil.
Sekolah Perintis Peradaban menerapkan enam strategi pencegahan yang terintegrasi dalam praktik pembelajaran sehari-hari, meliputi seleksi keluarga, pengajaran grace and courtesy, stimulasi sensori-motorik, penerapan ground rules, pengembangan literasi emosi, dan pembiasaan menyampaikan ketidaknyamanan, yang secara keseluruhan beroperasi secara preventif, edukatif, dan struktural. Strategi penanganan menekankan pendekatan edukatif dan non-represif yang dilaksanakan melalui empat tahapan berkesinambungan: penerimaan dan verifikasi laporan, pendampingan intensif berbasis dialog reflektif, perumusan intervensi kontekstual, serta rekomendasi rujukan profesional apabila diperlukan.
Dalam kerangka Model Pencegahan Tiga Tingkat, strategi-strategi tersebut beroperasi secara dominan pada tingkat primer dengan kapasitas sekunder yang bersifat responsif terhadap tanda-tanda awal perilaku bermasalah. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan pencegahan berbasis nilai dan relasi yang dikembangkan mempresentasikan model perlindungan yang menyatu dalam keseluruhan ekosistem pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa institusi PAUD nonformal dapat menjadi aktor strategis dalam pemenuhan hak perlindungan anak, sepanjang praktik kelembagaannya secara konsisten menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai landasan utamanya.
Bullying in early childhood constitutes a serious and pressing child protection concern, yet research on this issue within non-formal early childhood education (ECE) settings in rural areas remains considerably limited. This urgency is particularly evident in the local context, as Magelang Regency has recorded a rise in child violence cases, whilst Central Java ranks among the five provinces with the highest rates of child violence in Indonesia. This study, therefore, aims to explore and understand how bullying prevention and intervention strategies are implemented and perceived by school members at Sekolah Perintis Peradaban, Magelang Regency, Central Java.
The study employs a qualitative case study approach, gathering data through observation, in-depth interviews, documentation, and a literature review, involving parents, facilitators, and the school principal as informants. The data were subsequently analyzed using a continuous model, interpreted through the lens of Ecological Systems Theory and the Three-Tier Prevention Model.
The findings reveal that informants understand bullying not as behavior driven purely by intent to harm, but as a phenomenon shaped by the interplay of children's developmental characteristics, sensorimotor maturity, and environmental factors. An ecological analysis identifies the microsystem and mesosystem as the most crucial levels in shaping bullying behavior among young children. Family caregiving patterns and the dynamics of school interaction as microsystems directly shape children's capacity for emotional regulation and empathy. At the same time, value consistency between the two at the mesosystem level determines the degree to which prosocial behavior can be durably internalized.
Sekolah Perintis Peradaban implements six integrated prevention strategies in daily learning: family selection, grace and courtesy teaching, sensory-motor stimulation, ground-rules enforcement, emotional literacy development, and habituation to expressing discomfort. These strategies operate preventively, educatively, and structurally. The intervention strategies emphasize receiving an educative, non-repressive approach carried out through four continuous stages: receiving and verifying reports, intensive accompaniment based on reflective dialogue, formulating contextual interventions, and, when necessary, recommending professional referrals.
Within the Three-Tier Prevention Model Framework, these strategies operate predominantly at the primary level, with secondary capacity that remains responsive to early signs of problematic behavior. These findings indicate that the value- and relationship-based approach represents a protection model embedded within the entire learning ecosystem. This research affirms that non-formal ECE institutions can serve as strategic actors in fulfilling children's protection rights, provided that their institutional practices consistently place the best interests of the child as their primary foundation.
Kata Kunci : perundungan, anak usia dini, PAUD nonformal, strategi pencegahan, strategi penanganan, hak perlindungan anak