Laporkan Masalah

Antara Kualifikasi dan Eksploitasi: Analisis Hak dan Kondisi Kerja Pekerja Generasi-Z pada Sektor Industri Food and Beverages (FnB) di Daerah Istimewa Yogyakarta

Rosarie Nadea Comannecy, Prof. Dr. Amalinda Savirani, S.I.P., M.A.

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini menganalisis pekerja generasi Z yang mendominasi angkatan kerja Indonesia dan menghadapi permasalahan dalam dunia kerja meliputi praktik fleksibilitas yang berujung pada eksploitasi dan kerentanan kerja, serta tuntutan kualifikasi yang semakin tinggi dan berlapis yang tidak diimbangi dengan upah layak dan ketersediaan jaminan kesejahteraan yang menjadi bentuk perkembangan fleksibilitas. Fenomena fleksibilitas pasar tenaga kerja yang semula dipromosikan sebagai strategi adaptasi terhadap dinamika ekonomi global, tetapi dalam praktiknya justru cenderung memindahkan risiko ekonomi dari perusahaan kepada pekerja melalui kontrak kerja jangka pendek, upah tak menentu, jam kerja tidak beraturan, dan minimnya jaminan sosial. Lebih jauh, muncul fenomena double qualification dalam rekrutmen sebagai bentuk komodifikasi keunggulan fisik menjadi nilai jual yang meliputi adanya tuntutan bagi pekerja untuk memenuhi persyaratan hard skill, soft skill, sekaligus standar estetika seperti good looking, good wearing, dan well groomed, sehingga menjadi bentuk eksploitasi baru yang kerap tidak disadari. Kondisi ini mendorong terjadinya prekariatisasi tenaga kerja muda dan menciptakan ketimpangan struktural dalam relasi kerja di sektor FnB.

Penelitian ini menjawab pertanyaan bagaimana praktik fleksibilitas dalam pasar tenaga kerja membentuk kerentanan pada pekerja generasi Z di sektor FnB Daerah Istimewa Yogyakarta; kedua, sejauh mana kualifikasi rekrutmen kerja yang tinggi justru berhadapan dengan praktik upah yang rendah dan menjadi bentuk eksploitasi tenaga kerja generasi Z  di sektor FnB; ketiga, bagaimana persepsi generasi Z terhadap tuntutan kualifikasi kerja baik dari aspek skill, penampilan, dan pengalaman yang dibutuhkan sebuah perusahaan dengan upah yang diterima. Penelitian ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata dengan menggunakan pendekatan campuran/mixed methods. Pengambilan data kuantitatif dengan survei pada 111 responden melalui google form terhadap para pekerja generasi Z di FnB di DIY yang berdomisili di semua kabupaten/kota (Kota Yogya, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul). Pengambilan data kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam pada 7 narasumber, studi pustaka dan analisis data sekunder dari dokumen resmi serta literatur akademik terkait ketenagakerjaan dan informalitas. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, perkembangan sektor FnB di DIY yang didorong oleh pertumbuhan pariwisata dan konsumsi berkontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, khususnya pekerja muda. Namun, mayoritas pekerjaan di sektor ini bersifat informal dan fleksibel, dengan perlindungan kerja yang lemah, upah rendah, dan minim jaminan sosial, sehingga kondisi tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas sektor FnB ini lebih berfungsi sebagai mekanisme efisiensi dan menguntungkan bagi pemilik modal dibandingkan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan pekerja. Kedua, fenomena ‘kualifikasi ganda’ menunjukkan adanya ketimpangan struktural ditunjukkan dari standar rekrutmen semakin kompleks, tetapi tidak diikuti oleh peningkatan upah ataupun jaminan kesejahteraan lainnya. Ketiga, cukup tingginya pemahaman pekerja terhadap hak-haknya, tidak serta merta mengeluarkan mereka dari kondisi rentan karena kondisi ini seolah diterima dengan wajar karena tidak adanya alternatif lain. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa fleksibilitas dan informalitas pasar tenaga kerja di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pekerjaan yang layak termasuk untuk gen Z.

This study analyzes Generation Z workers, who dominate the Indonesian workforce and face challenges in the workplace, including flexible practices that lead to exploitation and vulnerability, as well as increasingly high and layered qualification demands that are not matched by decent wages and the availability of welfare guarantees, which are a manifestation of the development of flexibility. The phenomenon of labor market flexibility, initially promoted as a strategy for adapting to global economic dynamics, in practice tends to shift economic risks from companies to workers through short-term employment contracts, uncertain wages, irregular working hours, and minimal social security. Furthermore, the phenomenon of double qualification in recruitment, as a form of commodification of physical excellence, involves demands for workers to meet hard skills, soft skills, and aesthetic standards such as good looks, good clothing, and well-groomed appearance, creating a new, often unnoticed form of exploitation. This situation encourages the precariatization of young workers and creates structural inequalities in employment relations in the F&B sector.

This study answers the question of how flexible practices in the labor market shape the vulnerability of Generation Z workers in the F&B sector in the Special Region of Yogyakarta. Second, to what extent do high job recruitment qualifications actually conflict with low wages and constitute a form of exploitation of Generation Z workers in the F&B sector? Third, to what extent do Generation Z perceive the demands of job qualifications, including skills, appearance, and experience, required by companies, in relation to the wages they receive? This research was conducted in the Special Region of Yogyakarta, a city of students and tourists, using a mixed methods approach. Quantitative data collection involved a survey of 111 respondents via Google Form. This survey focused on Generation Z F&B workers in Yogyakarta, residing in all regencies/cities (Yogyakarta City, Sleman Regency, Bantul Regency, Kulon Progo Regency, and Gunung Kidul Regency). Qualitative data collection was conducted through in-depth interviews with seven informants, literature review, and secondary data analysis from official documents and academic literature related to employment and informality.

The results of the study indicate that, first, the development of the F&B sector in Yogyakarta, driven by tourism and consumption growth, contributes significantly to labor absorption, particularly among young workers. However, the majority of jobs in this sector are informal and flexible, with weak employment protections, low wages, and minimal social security. This suggests that the flexibility of the F&B sector functions more as an efficiency mechanism and benefits capital owners than as a means of improving worker welfare. Second, the phenomenon of "dual qualifications" indicates structural inequality, as evidenced by increasingly complex recruitment standards, but not accompanied by increased wages or other welfare guarantees. Third, workers' relatively high level of understanding of their rights does not automatically remove them from vulnerable situations, as these conditions are seemingly accepted as normal due to the lack of alternatives. Thus, this study confirms that the flexibility and informality of the labor market in Indonesia remain serious challenges in achieving decent work, including for Gen Z.

Kata Kunci : flexibility of labour market, informalitas kerja, precarious worker, pekerja generasi Z, decent work, sektor Food and Beverages, Daerah Istimewa Yogyakarta

  1. S1-2026-492967-abstract.pdf  
  2. S1-2026-492967-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-492967-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-492967-title.pdf