Hubungan Stabilitas Agregat Tanah dan Retensi Air pada Lahan Tebu, Jombang
Agustinus Chandra Adhi Suryawan, Nur Ainun Harlin Jennie Pulungan, S.Si., M.Sc., Ph.D.; Ir. Suci Handayani, M.P.
2026 | Skripsi | ILMU TANAH
Optimalisasi produksi tebu diperhatikan melalui maintenance kualitas sifat tanah pada lahan komoditas untuk mendukung pertumbuhan tanaman tebu. Agregat dapat menjadi sarana penyimpanan air tersedia bagi tanaman dan air merupakan komponen penting dalam pertanian tebu sehingga kadar retensi air tanah perlu dikaji melalui hubungannya dengan stabilitas agregat tanah. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada tujuan untuk mengetahui sifat fisika tanah yang memengaruhi stabilitas agregat tanah, menganalisis kelas stabilitas agregat pada setiap lahan, dan mengetahui hubungan antara stabilitas agregat dan retensi air. Penelitian ini dilakukan pada lahan tebu di PG Djombang Baru, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dengan sebaran tiga lokasi, yaitu Pulo Lor, Kepuh Kembeng, dan Tunggorono. Pengujian parameter dilakukan melalui analisis statistik korelasi dan regresi pada sebaran 44 sampel tanah. Penentuan sampel di lokasi penelitian didasari oleh metode proportional sampling dengan memperhatikan luasan area penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa stabilitas agregat tanah pada lokasi penelitian dipengaruhi oleh kadar lengas tanah, berat volume tanah, fraksi lempung, pF 4.2, dan C-Organik tanah. Kelas stabilitas agregat di lokasi penelitian tergolong Kurang Mantap–Agak Mantap, sehingga kemampuan agregat untuk bertahan dari gaya perusak cenderung rendah. Hubungan stabilitas agregat dan retensi air pada lokasi penelitian tergolong sangat lemah-agak kuat karena nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa faktor model eksternal lebih berperan dalam menjelaskan variasi retensi air, sedangkan stabilitas agregat tidak terlalu berpengaruh. Tekstur dan C-Organik lebih berperan dalam menjelaskan variasi retensi air melalui distribusi pori yang terbentuk.
Optimization of sugarcane production is closely linked to maintaining soil quality within commodity lands to support plant growth. Aggregates serve as a reservoir for available water, and since water is a critical component in sugarcane cultivation, soil water retention must be examined through its relationship with soil aggregate stability. Consequently, this study aims to identify the physical soil properties influencing aggregate stability, analyze aggregate stability classes across various fields, and determine the correlation between aggregate stability and water retention. The research was conducted on sugarcane plantations at PG Djombang Baru, Jombang Regency, East Java, across three locations: Pulo Lor, Kepuh Kembeng, and Tunggorono. Parameter testing was performed using statistical correlation and regression analysis on 44 soil samples. The sampling locations were determined using a proportional sampling method based on the total research area. The results indicate that soil aggregate stability in the study area is influenced by soil moisture content, bulk density, clay fraction, pF 4.2, and soil organic carbon (SOC). The aggregate stability classes in the study area range from Unstable to Moderately Stable, suggesting a low capacity of aggregates to withstand destructive forces. The relationship between aggregate stability and water retention was found to be very weak to moderately strong; the coefficient of determination indicates that external model factors play a more significant role in explaining water retention variations, while aggregate stability has a minimal impact. Instead, soil texture and organic carbon are more influential in explaining water retention variations through the resulting pore distribution.
Kata Kunci : Stabilitas agregat, retensi air, pF tanah, sifat fisik tanah, lahan tebu