Aplikasi Pelapis Pangan Berbasis Pati Singkong dan Karagenan Selama Penyimpanan Buah Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)
Anbi Muliajati, Dody Kastono, S. P., M. P
2026 | Skripsi | AGRONOMI
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia yang memiliki masa simpan relatif singkat akibat laju transpirasi dan respirasi yang tinggi serta struktur kulit buah yang tipis. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan mutu yang cepat dan kehilangan hasil pascapanen yang tinggi sehingga diperlukan upaya penanganan yang efektif. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah pelapis pangan berbasis polisakarida seperti pati singkong dan karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapis pangan terhadap mutu cabai rawit selama penyimpanan serta membandingkan efektivitas pati singkong dan karagenan dan mengevaluasi kombinasi keduanya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor yaitu kultivar dan formulasi pelapis pangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal yang meliputi perbandingan kontrol terhadap pelapis pangan serta pelapis tunggal terhadap kombinasi dan pati singkong terhadap karagenan pada masing-masing kultivar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapis pangan mampu memperlambat penurunan mutu cabai rawit terutama pada variabel susut bobot kekerasan dan warna pada fase awal hingga pertengahan penyimpanan namun tidak berpengaruh nyata terhadap kerusakan. Karagenan menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan pati singkong dalam mempertahankan mutu cabai rawit selama penyimpanan. Kombinasi pati singkong dan karagenan tidak menunjukkan keunggulan yang konsisten dibandingkan perlakuan tunggal. Pelapis pangan berbasis karagenan berpotensi sebagai teknologi pascapanen yang lebih efektif untuk mempertahankan mutu cabai rawit meskipun formulasi kombinasi masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
Tropical chili
pepper (Capsicum frutescens L.) is an
important horticultural commodity in Indonesia with a relatively short shelf
life due to high transpiration and respiration rates and a thin fruit skin
structure. These conditions lead to rapid quality deterioration and significant
postharvest losses so effective handling strategies are required. One
applicable technology is edible coating based on polysaccharides such as
cassava starch and carrageenan. This study aimed to determine the effect of
edible coating on the quality of tropical chili pepper during storage as well
as to compare the effectiveness of cassava starch and carrageenan and to
evaluate their combination. The experiment used a completely randomized design
with two factors namely cultivar and coating formulation. Observational data
were analyzed using analysis of variance followed by orthogonal contrast tests
including comparisons between control and coating treatments single and
combined coatings and cassava starch and carrageenan within each cultivar. The
results showed that edible coating was able to delay quality deterioration of
tropical chili pepper especially in weight loss firmness and color during the
early to middle stages of storage but had no significant effect on decay.
Carrageenan demonstrated higher effectiveness than cassava starch in
maintaining chili quality during storage. The combination of cassava starch and
carrageenan did not show consistent advantages compared with single treatments.
Edible coating based on carrageenan has potential as a more effective postharvest
technology to maintain the quality of tropical chili pepper although
formulation of combined coatings still requires further development.
Kata Kunci : Capsicum frutescens, pelapis pangan, karagenan, pati singkong