Dualitas Pemaknaan Identitas Tionghoa Dalam Tubuh Indonesia Pasca-Reformasi: Studi Kasus Surakarta
Padma Rasti Briliani, Joash Elisha Stephen Tapiheru, S.I.P., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Tulisan ini bermula dengan latar belakang Orde Baru. Masa di mana diskriminasi dan kesewenangan pemerintahan merajai tanah Nusantara, masa di mana rezim Soeharto yang nirkemanusiaan berada di titik kejayaannya. Dari banyaknya kejadian yang ada pada era Orde Baru, penulis kemudian berfokus kepada diskriminasi etnis Tionghoa di masa tersebut yang kemudian menghasilkan kelompok representasi Tionghoa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi dinamika representasi etnis Tionghoa Surakarta pasca reformasi. Melihat bagaimana dinamika para kelompok representasi dengan tetap berpegang kepada paham pemaknaan yang dipercayainya. Dinamika ini kemudian menghasilkan adanya harmonisasi antara paham asimilasi dan integrasi yang sempat berjaya sebelum masa Reformasi kepada para pemeluknya di Surakarta.
Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang kemudian melibatkan 5 (lima) narasumber, dengan 3 (tiga) orang yang dapat disebutkan identitasnya. Narasumber ini berasal dari pihak representasi kelompok etnis Tionghoa Surakarta, masyarakat Tionghoa non-organisasi di Surakarta, dan Pribumi Surakarta yang menetap sejak sebelum Orde Baru hingga saat ini. Pencarian data menggunakan proses wawancara dan kemudian dilakukan analisis dengan dua teori, yaitu teori representasi dari Hanna F. Pitkin dan teori diskriminasi oleh Fulthoni.
Penelitian ini menemukan adanya kelanggengan dua paham pemaknaan identitas Tionghoa pada masa Orde Baru di masa pasca reformasi serta perubahan bentuk representasi dalam tubuh Tionghoa. Kelanggengan ini kemudian dilihat sebagai bukan penghalang harmonisasi di antara kedua representasi Tionghoa di Surakarta.
This paper begins with the background of the New Order. A period when discrimination and government arbitrariness ruled the archipelago, a period when Suharto's inhumane regime was at its peak. Of the many events that occurred during the New Order era, the author focuses on the discrimination against ethnic Chinese during that period, which led to the formation of Chinese representative groups.
This study aims to elaborate on the dynamics of Chinese ethnic representation in Surakarta after the Reformation. It looks at how these groups of representation functioned while adhering to their beliefs. These dynamics then resulted in a harmonization between the ideas of assimilation and integration that had been successful before the Reformation among their followers in Surakarta.
This paper uses a qualitative method with a case study approach, involving five (5) sources, three (3) of whom can be identified. These informants came from representatives of the Chinese ethnic group in Surakarta, non-organized Chinese communities in Surakarta, and indigenous Surakarta people who have lived there since before the New Order until now. Data collection was conducted through interviews, followed by analysis using two theories: Hanna F. Pitkin's theory of representation and Fulthoni's theory of discrimination.
This study finds the persistence of two interpretations of Chinese identity during the New Order era and the post-reform era, as well as changes in the form of representation within the Chinese community. This persistence is then seen as not being an obstacle to harmony between the two Chinese representations in Surakarta.
Kata Kunci : Representasi, Dualitas Pemaknaan, Tionghoa, Surakarta