Pengaruh Insektisida yang Mengandung d-Allethrin dan Propoksur terhadap Fekunditas dan Daya Tetas Aedes albopictus
Reasa Tjandisaka , Dra. Budi M
Demam Berdarah Dengue merupakan masalah kesehatan karena angka kematiannya yang tinggi dan penyebarannya yang makin meluas. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang merupakan vektor utama dan sekunder. Menurut Mardihusodo (1987) ternyata Aedes albopictus juga berperan penting dalam penyebaran virus dengue karena populasinya yang lebih besar dan lebih rentan terhadap virus dengue daripada Aedes aegypti. Sampai saat ini obat spesifik untuk DBD belum ditemukan sehingga usaha pencegahan dan penanggulangan yang harus dilakukan adalah dengan pengendalian vektor. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan vektor, baik dengan insektisida maupun tanpa insektisida. Penggunaan obat nyamuk di rumah tangga sudah merupakan hal yang umum. Untuk mengetahui pengaruh obat nyamuk yang ada di pasaran terhadap penurunan populasi nyamuk maka diadakan suatu penelitian terhadap salah satu obat nyamuk yang ada di pasaran. Data-data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan uji statistik yaitu Analisis Varians Satu Jalan untuk data mortalitas nyamuk uji, Randomized Block Anova untuk data fekunditas dan daya tetas telur nyamuk uji serta Tukey's test HSD terhadap seluruh data penelitian setelah masing- masing data diolah dengan analisis varians diatas. Dari percobaan di laboratorium dengan subyek Aedes albopictus didapatkan bahwa obat nyamuk yang mengandung propoksur dan d-allethrin ini menimbulkan peningkatan mortalitas yang bermakna secara statistik (p<0,005) pada menit ke-45, dan setelah menit ke-45 tidak didapatkan peningkatan yang bermakna secara statistik antara kelompik pemaparan 45 menit dengan 90 menit, 90 menit dengan 135 menit serta antara 135 menit dengan 180 menit. Fekunditas nyamuk ternyata secara statistik tidak memberikan penurunan yang bermakna pada masing-masing waktu pemaparan jika dibandingkan dengan kontrol. Daya tetas telur yang dihasilkan ternyata menurun secara bermakna dibandingkan dengan kontrol pada menit ke-90 dan 180 (p<0,05) tetapi perbandingan antara menit ke-90 dengan 180 tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. penggunaan Dengan mempertimbangkan efisiensi insektisida, penurunan efek samping dan pencemaran lingkungan maka diambil patokan bahwa waktu pemaparan 90 menit cukup untuk menimbulkan peningkatan mortalitas dan penurunan daya tetas telur yang bermakna secara statistik yang pada akhirnya akan menurunkan jumlah vektor.
Kata Kunci : Demam berdarah dengue, angka kematian, Aedes aegypti