Laporkan Masalah

PENGARUH JENIS FILLER DAN LENGHT OF LAP TERHADAP SIFAT FISIS DAII MEKAIIIS PAD A BRAZING PELAT TEMBAGA

Harifi Bintoro, Ir. Muhammad Waziz Wildan M.Sc., Ph.D., IPU

2007 | Skripsi | S1 TEKNIK MESIN

Suatu konstruksi dapat dibuat dengan cara perakitan antara komponen satu dengan komponen lainnya. Perakitan komponen-komponen tersebut dapat menggunakan sistem mur dan bau! riveling (paku keling), soldering (pati |unak), brazing (patri keras) atau welding (pengelasan). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat-sifat mekanis dan fisis pada proses penyambrngan brazing pelat tembaga menggunakan las tabung gas oxy-asetilen dengan perbedaan jenis kawat patri yaitu CuZn (kuningan) dan BCuP2 (tembaga fosfor) dan juga perbedaan pulang lap yaitu lap 0 (butt joint), Iap joint lmm, lap joint 3mm, dan lap joint 5mm. Logam tembaga dalam bentuk pelat banyak digunakan untuk bagian radiator, dan alat lainnya yang memerlukan daya hantar panas dan listrik tinggi. Dalam perbaikan bagian radiator memerlukan teknik penyambungan yang dikenal dengan nama brazing (patri keras). Proses penyambungan brazing dilaklkan dengan cara pemanasan awal melalui torch tabung oxy-asetilen pada daerah sambungan brazing sampai suhu kerja logam tambahnya, lalu logam tambah tersebut mencair dan merambat masuk ke dalam celah sambungan yang sempit dengan teknik kapilerisasi celah, selanjutnya didinginkan pada suhu atmosfir. Untuk mengetahui sampai sejauh mana sifat mekanis dan fisis dari sambungan brazing pelat. tembaga maka dilakukan penelitian dengan variasi jenis sambungan dan jenis logam patri melalui beberapa pengujian seperti; pengujian tarik, geser, dan kekerasan. Untuk melengkapi hasil pengujian tersebut dilakukan beberapa pemeriksaan seperti; pemeriksaan komposisi unsur kimia, pengamatan struktur mikro dan makro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat mekanis terutama dari kekuatan tarik material hrazing adalah baik (cukup kuat). Hal ini dapat dilihat dari hasil uji tarik dimana benda uji selalu patah di bagian logam induk (untuk sambungan tumpang/ Iap joinl) dan patah di bagian logam tambah (untuk sambungan tumpuV butt joinl). Kekuatan tarik sambungan brazing bila dibandingkan dengan kekuatan tarik logam induk pelat tembaga mengalami penumnan sebesar 25-50%, sedangkan keuletan mengalami penurunan sebesar 30-50%. Dari hasil uji kekerasan terjadi sedikit penurunan tingkat distribusi kekerasan (VHN) pada daerah logam indu,k brazing bila dibandingkan dengan kekerasan logam induk material sebelum proses brazing, hal ini disebabkan proses pemanasan setempat yang menyebabkan ukuran butir membesar sehingga kekerasan menurun, sedangkan distribusi kekerasan daerah logam las/ patri brazing dengan kawat BCuP2 jauh lebih tinggi dari pada CuZn, dan CuZn lebih keras dari pada daerah logam induknya, hal ini disebabkan adanya perbedaan kandungan komposisi unsur kimia pada masing-masing logam tersebut.

Kata Kunci : Pelat tembag4 Brazing, Las oxy-asetilen, BCuP2, CuZn, Butt joint, Lan ioint

  1. S1-FTK-2007-Harifi_Bintoro-bibliography.pdf  
  2. S1-FTK-2007-Harifi_Bintoro-tableofcontent.pdf  
  3. S1-FTK-2007-Harifi_Bintoro-title.pdf