Performa Perkembangan Spodoptera exigua pada Bawang Merah yang Diperlakukan dengan Aplikasi Jamur Mikoriza Arbuskula dan Vermikompos
Ida Afifatun Nisa', Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si.; Dr. Suryanti, S.P., M.P.
2026 | Skripsi | ILMU HAMA & PENYAKIT TUMBUHAN
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Upaya peningkatan kualitas dan kuantitas produksi penting dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar. Upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dengan perluasan wilayah tanam. Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu kabupaten yang potensial untuk pengembangan bawang merah. Upaya peningkatan produksi mengalami hambatan adanya hama Spodoptera exigua, tetapi intensitas serangannya dapat ditekan dengan melakukan pemupukan berimbang dengan jamur mikoriza arbuskula dan vermikompos. Metode yang digunakan, yaitu dengan melakukan infestasi buatan larva instar 3 ke tanaman bawang merah yang diberi perlakuan jamur mikoriza arbuskula dan vermikompos dengan media tanaman tanah Gunungkidul dan Bantul. Jenis tanah berperan lebih dominan dibandingkan jenis pupuk dalam memengaruhi intensitas serangan Spodoptera exigua, tanah yang lebih subur, seperti tanah Bantul mampu meningkatkan kualitas tanaman sekaligus kerentanannya terhadap serangan hama. Jenis pupuk hanya berpengaruh pada lama fase larva, dengan NPK mempercepat perkembangan melalui peningkatan ketersediaan nutrisi. Pada kondisi tanah kurang subur, seperti tanah Gunungkidul tanaman cenderung akan menghasilkan metabolit sekunder sebagai mekanisme pertahanan sehingga intensitas serangan hama menjadi lebih rendah.
Shallots (Allium cepa var. aggregatum)
are a strategic horticultural commodity with high economic value in Indonesia.
Efforts to improve both the quality and quantity of production are essential to
meet market demand. One strategy to increase production is the expansion of
cultivation areas, with Gunungkidul Regency being one of the potential regions
for shallot development. However, production is constrained by the pest Spodoptera
exigua. The intensity of its attack can be reduced through balanced
fertilization using arbuscular mycorrhizal fungi and vermicompost. This study
was conducted by artificially infesting third-instar larvae onto shallot plants
treated with arbuscular mycorrhizal fungi and vermicompost grown in soils from
Gunungkidul and Bantul. The results showed that soil type had a more dominant
effect than fertilizer type in influencing the intensity of Spodoptera
exigua attacks. More fertile soil, such as Bantul soil, improved plant
quality but also increased susceptibility to pest infestation. Fertilizer type
only significantly affected the duration of the larval stage, with NPK
accelerating larval development due to increased nutrient availability. Under
less fertile soil conditions, such as Gunungkidul soil, plants tended to
produce higher levels of secondary metabolites as a defense mechanism,
resulting in lower pest attack intensity.
Kata Kunci : Metabolit sekunder; pupuk; Gunungkidul; Bantul