Analisis Ketimpangan Ketercukupan Jaringan Jalan di Kabupaten Bantul
Novananda Azhiem Muliadarma P, Dr. Andri Kurniawan, S.Si., M.Si.
2026 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Infrastruktur jaringan jalan merupakan pilar utama dalam mendukung mobilitas penduduk dan distribusi ekonomi wilayah. Di Kabupaten Bantul, tantangan pembangunan infrastruktur terletak pada disparitas ketersediaan jalan antarwilayah yang menghambat pemerataan aksesibilitas. Meskipun secara akumulatif panjang jalan kabupaten cukup signifikan, ketimpangan distribusi spasial dan kondisi kemantapan jalan masih menjadi permasalahan krusial. Isu ketimpangan wilayah ini merupakan salah satu fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bantul 2021–2026 untuk mewujudkan konektivitas regional yang berkeadilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketercukupan jaringan jalan tiap kapanewon, menganalisis ketimpangan ketercukupan jalan antar wilayah, serta merumuskan rekomendasi kebijakan pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Bantul.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder dari Badan Pusat Statistik dan instansi teknis terkait. Tingkat ketercukupan infrastruktur diukur melalui Rasio Ketercukupan, yaitu perbandingan panjang jalan eksisting dengan panjang jalan ideal berdasarkan standar indeks aksesibilitas di setiap kapanewon. Selanjutnya, ketimpangan distribusi jalan dianalisis menggunakan Koefisien Variasi (KV) untuk menilai heterogenitas ketersediaan infrastruktur antarwilayah. Wilayah kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori “Terpenuhi” dan “Tidak Terpenuhi” sebagai dasar perumusan rekomendasi kebijakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agregat Kabupaten Bantul berada dalam kondisi surplus, dengan total panjang jalan eksisting sebesar 1.207,19 km yang melampaui kebutuhan ideal sebesar 1.018,41 km. Namun, pada tingkat kapanewon masih terdapat ketimpangan, di mana 13 kapanewon telah masuk kategori "Terpenuhi", sementara 4 kapanewon masih "Tidak Terpenuhi". Nilai Koefisien Variasi mengkonfirmasi adanya heterogenitas sebaran ketersediaan jalan yang memerlukan intervensi kebijakan berbeda. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan strategi optimalisasi pemeliharaan bagi wilayah yang sudah tercukupi serta prioritas ekstensifikasi atau peningkatan jalan baru bagi kapanewon yang belum terpenuhi untuk menutup defisit aksesibilitas.
Road network infrastructure is a fundamental pillar in supporting population mobility and regional economic distribution. In Bantul Regency, infrastructure development faces challenges due to disparities in road availability across regions, which hinder equitable accessibility. Although the total length of regency roads is relatively significant, spatial distribution inequality and road condition remain critical issues. This regional disparity is a key concern in the Regional Medium-Term Development Plan of Bantul Regency 2021–2026 to achieve equitable regional connectivity. This study aims to identify the level of road network adequacy in each sub-district, analyze interregional road network disparities, and formulate policy recommendations for road infrastructure development in Bantul Regency.
This study employs a descriptive quantitative approach using secondary data obtained from the Central Bureau of Statistics and relevant technical agencies. The level of infrastructure adequacy is measured using the Adequacy Ratio, which compares the existing road length to the ideal road length based on accessibility index standards in each sub-district. Furthermore, disparities in road distribution are analyzed using the Coefficient of Variation (CV) to assess the degree of heterogeneity in infrastructure availability across regions. The regions are then classified into “Adequate” and “Inadequate” categories as a basis for formulating development policy recommendations.
The results indicate that, in aggregate, Bantul Regency is in a surplus condition, with a total existing road length of 1,207.19 km exceeding the ideal requirement of 1,018.41 km. However, at the sub-district level, disparities persist, where 13 sub-districts are classified as “Adequate”, while 4 sub-districts remain “Inadequate”. The Coefficient of Variation confirms the presence of heterogeneity in road availability distribution, requiring differentiated policy interventions. Based on these findings, strategies are recommended to optimize maintenance in adequately served areas and prioritize road expansion or upgrading in underserved sub-districts to reduce accessibility deficits.
Kata Kunci : Infrastruktur, Jalan, Ketimpangan, Koefisien Variasi, Aksesibilitas