Child Marriage in Bangladesh: Factors and Consequences for Girls and Women
Regita Cahyani Enawan Putri, Dr. Titik Firawati
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Pernikahan anak merupakan sebuah praktik yang sudah ada di Bangladesh selama beberapa dekade. Karena praktik yang sudah merajalela, Bangladesh menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia. Pernikahan anak di Bangladesh terjadi di bawah norma sosial yang ketat, serta kondisi ekonomi yang sulit. Anak perempuan di Bangladesh dikonstruksikan untuk menikah cepat; setelah anak perempuan mencapai pubertas, mereka diharapkan untuk langsung menikah. Di bawah kondisi ekonomi yang sulit, anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi keluarga; menikahkan anak tersebut sedini mungkin akan meringankan beban ekonomi keluarga. Sebagai tanggapan terhadap tingginya angka pernikahan anak di Bangladesh, pemerintah menetapkan penghapusan pernikahan anak sebagai prioritas nasional. Angka pernikahan anak di Bangladesh yang mengkhawatirkan juga kemudian mendorong intervensi dari LSM. Namun, meskipun pemerintah dan LSM sudah berusaha mengintervensi, pernikahan anak di Bangladesh masih marak. Oleh karena itu, studi ini bermaksud untuk memahami bagaimana pernikahan anak di Bangladesh masih marak terjadi meskipun pemerintah dan LSM sudah mengintervensi. Skripsi ini akan menggunakan post-structural feminism sebagai kerangka teori untuk menyoroti bagaimana intervensi pemerintah dan LSM gagal dalam memahami pengalaman anak perempuan di Bangladesh terkait dengan pernikahan anak, yang menyebabkan stagnasi pada angka pernikahan anak di Bangladesh.
Child marriage is a practice that has been present in Bangladesh for decades. Due to its pervasiveness, Bangladesh is among the countries with the highest rate of child marriage. Child marriage in Bangladesh happens under strict social norms and difficult economic conditions. Girls in Bangladesh are constructed to marry early; as soon as a girls reach puberty, they are expected to get marries immediately. Under economic hardships, daughters are seen as an economic burden; marrying them off early would ease the family's economy. As a response to the high rate of child marriage in the country, the Government of Bangladesh set the goal to end the practice as a national priority. The alarming number of child marriage in Bangladesh has also pushed NGOs to intervene. However, despite years of efforts, child marriage is still present in Bangladesh. Therefore, this study aims to understand how child marriage in Bangladesh is still prevalent despite interventions by the government and NGOs. This thesis will utilize post-structural feminism as the theoretical framework to highlight how the interventions fail to understand the experience of adolescent girls and young women in Bangladesh regarding child marriage, resulting in the stagnation of the rate of the practice in the country.
Kata Kunci : Child marriage, Bangladesh, Post structural feminism