Laporkan Masalah

Identifikasi Risiko dan Implementasi Tindakan Karantina pada Importasi Sapi Perah dari Australia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Tengah

M. Mukhlis Aditya Pangestu, drh. Clara Ajeng Artdita, M.Sc.

2026 | Tugas Akhir | D4 Teknologi Veteriner

Kegiatan importasi sapi perah jenis Friesian Holstein (FH) dari Australia merupakan salah satu strategi dalam memperkuat pemenuhan ketahanan pangan nasional. Pelaksanaan importasi dilakukan mulai dari analisis risiko, tindakan karantina 14 hari, hingga pembebasan. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui identifikasi risiko dan prosedur tindakan karantina 14 hari pada importasi sapi perah FH dari Australia melalui Instalasi Karantina Hewan Cilacap, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode deskriptif melalui studi identifikasi, pengamatan langsung, wawancara dengan pejabat karantina, dan pengujian laboratorium untuk penyakit Brucellosis, Paratubercullosis, Bovine Viral Diarrhea, dan Lumpy Skin Disease terhadap 1.138 ekor sapi perah. Hasil studi menunjukkan bahwa identifikasi risiko telah dilaksanakan melalui tahap identifikasi bahaya, penilaian risiko, manajemen risiko, dan komunikasi risiko. Tindakan karantina selama 14 hari telah dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku meliputi pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, dan pembebasan. Uji laboratorium menunjukkan hasil bahwa seluruh sapi negatif dari Brucellosis, Paratubercullosis, dan Lumpy Skin Disease, serta ditemukan 2 ekor sapi positif Bovine Viral Diarrhea (0,18%) yang kemudian dilakukan tindakan pemusnahan, 1 ekor sapi abortus yang kemudian dilakukan eutanasia (0,09%), dan 1.135 ekor sapi (99,74%) dinyatakan memenuhi syarat dan dilakukan tindakan pembebasan. Tindakan karantina yang dilakukan pada kegiatan importasi sesuai dengan regulasi yang berlaku untuk mencegah penyebaran penyakit di Indonesia.

The importation of Friesian Holstein (FH) cattle from Australia is one of strategy to strengthen the national food security. This process begins with risk analysis, a 14-day quarantine period, and release. This study aims to determine the risk identification and 14-day quarantine procedures for the importation of Friesian Holstein cattle from Australia through Instalasi Karantina Hewan Cilacap, Indonesian Quarantine Authority. The study was conducted using a descriptive approach involving identification assessment, direct observation, interviews with quarantine officers, and laboratory detection for Brucellosis, Paratuberculosis, Bovine Viral Diarrhea (BVD), and Lumpy Skin Disease (LSD) in 1,138 cattle. The results showed that the risk identification had been conducted through the stages of hazard identification, risk assessment, risk management, and risk communication. The 14-day quarantine measure were implemented in compliance with statutory regulations, including inspection, isolation, observation, treatment, holding, rejecting, culling, and release. The diagnostic examination results indicated that all cattle tested negative for Brucellosis, Paratuberculosis, and Lumpy Skin Disease. Two cattle tested positive for Bovine Viral Diarrhea (0.18%) and were subsequently culled. One cow that experienced abortion was euthanized (0.09%). A total of 1,135 cattle (99.74%) met the established criteria and were released. The quarantine measures implemented during the cattles importation process complied with statutory regulation to prevent the induction and spread of diseases in Indonesia. 

Kata Kunci : Sapi Friesian Holstein, Instalasi Karantina Hewan, ketahanan pangan, penyebaran penyakit, tindakan karantina

  1. D4-2026-505650-abstract.pdf  
  2. D4-2026-505650-bibliography.pdf  
  3. D4-2026-505650-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2026-505650-title.pdf