Evaluasi Taman Kota di DKI Jakarta
Patrick Gregori Caya Tarigan, Ir. Agam Marsoyo, M.Sc. Ph.D.
2026 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Taman kota memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas lingkungan dan interaksi sosial di DKI Jakarta, namun perannya memiliki tantangan berupa disparitas kualitas antar-wilayah administrasi. Fokus pembangunan yang seringkali menitikberatkan pada kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) berpotensi mengesampingkan aspek kualitas fisik dan fungsional, sehingga manfaat taman tidak dapat dirasakan secara merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas taman kota di DKI Jakarta berdasarkan tiga aspek Post-Occupancy Evaluation (POE), yaitu aspek teknis, fungsional, dan perilaku, serta membandingkan kinerja antar-lima wilayah administrasi untuk mengidentifikasi pola kesenjangan yang terjadi.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deduktif. Lokus penelitian mencakup 15 taman kota yang tersebar rata di lima wilayah administrasi (3 taman per wilayah administrasi). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan untuk menilai kondisi elemen fisik (teknis dan fungsional) serta penyebaran kuesioner kepada 375 responden untuk menggali persepsi pengguna (aspek perilaku). Data dianalisis menggunakan teknik skoring untuk menentukan tingkat kinerja dan analisis deskriptif-komparatif untuk memetakan peringkat serta karakteristik kualitas di setiap wilayah.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa aspek fungsional memiliki capaian tertinggi, diikuti aspek perilaku, dan aspek teknis sebagai yang terendah. Namun, secara umum, evaluasi keseluruhan menunjukkan taman kota di DKI Jakarta tergolong baik. Secara spasial, terdapat disparitas kinerja yang signifikan. Wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan konsisten menunjukkan kinerja terbaik, dengan Tebet Eco Park sebagai taman kota terbaik. Sebaliknya, Jakarta Utara mencatatkan kinerja terendah akibat kendala pada komponen fisik dasar dan kenyamanan lingkungan dengan Taman Kota Waduk Pluit sebagai taman kota terburuk. Temuan khusus (anomali) teridentifikasi pada evaluasi taman kota, terutama di Jakarta Timur, dengan adanya kualitas komponen teknis yang rendah, namun diikuti dengan kepuasan pengguna yang tetap tinggi. Kondisi mengindikasikan kuatnya fungsi sosial taman yang kontekstual dengan kebutuhan dibandingkan kondisi fisiknya.
City parks have had a pivotal role in enhancing environmental quality and fostering social interaction in DKI Jakarta. However, their contribution is challenged by significant quality disparities across administrative regions. Development policies that often prioritize the quantity of Green Open Spaces (RTH) risk overlooking physical and functional quality aspects, resulting in an uneven distribution of benefits among the community. This study aims to evaluate the quality of city parks in DKI Jakarta based on three Post-Occupancy Evaluation (POE) aspects—technical, functional, and behavioral—and to compare performance across the five administrative regions to identify existing patterns of disparity.
This study employed a quantitative approach with a deductive framework. The research consists of, evenly distributed, 15 city parks across the five administrative regions (three parks per region). Data collection involved field observations to assess the condition of physical elements (technical and functional aspects) and the distribution of questionnaires to 375 respondents to elicit user perceptions (behavioral aspect). Data were analyzed using scoring techniques to determine performance levels and descriptive-comparative analysis to map the rankings and quality characteristics of each region.
The findings indicated that the functional aspect achieved the highest score, followed by the behavioral aspect, with the technical aspect scoring the lowest. However, the overall evaluation generally classified city parks in DKI Jakarta as "Good.". Spatially, significant performance disparities were observed. Central Jakarta, West Jakarta, and South Jakarta consistently demonstrated the best performance, with Tebet Eco Park identified as the best city park. Conversely, North Jakarta recorded the lowest performance due to deficiencies in basic physical components and environmental comfort, with Taman Kota Waduk Pluit identified as the lowest-performing park. A specific anomaly was identified in the city park evaluation, particularly in East Jakarta, where low technical quality was observed alongside high user satisfaction. This condition indicates the strength of the park’s social function, which remains contextual to community needs regardless of its physical condition.
Kata Kunci : taman kota, evaluasi, post-occupancy evaluation, teknis, fungsional, perilaku