Laporkan Masalah

Hubungan Spasial Kemenangan Partai Politik Dalam Pileg Dengan Paslon Dalam Pilwalkot Yogyakarta Tahun 2024

Sekar Mutiara Karebet, Prof. Dr. Lutfi Muta'ali, S.Si., M.T.

2026 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) merupakan dua proses pemilihan yang melibatkan aktor yang sama, yaitu partai politik. Pada tahun 2024, kedua pemilihan ini dilaksanakan dalam waktu yang berdekatan, sehingga kondisi tersebut membuka kemungkinan terjadinya perilaku memilih secara linear, yakni kecenderungan pemilih memberikan suara kepada partai politik dan pasangan calon kepala daerah yang didukung oleh partai yang sama. Namun, kajian yang mengaitkan hubungan spasial antara hasil Pileg dan Pilwalkot, khususnya dalam perspektif geografi politik di tingkat kota, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi basis wilayah perolehan suara partai politik pendukung calon wali kota dalam Pileg, menganalisis pola spasial perolehan suara tersebut, serta mengkaji hubungan spasial antara kemenangan partai politik dalam Pileg dan perolehan suara pasangan calon yang didukungnya dalam Pilwalkot Kota Yogyakarta Tahun 2024.

Penelitian ini menggunakan wilayah kelurahan di Kota Yogyakarta sebagai unit analisis, dengan memanfaatkan data hasil perolehan suara Pileg dan Pilwalkot Tahun 2024 yang diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta. Metode analisis yang digunakan meliputi Location Quotient (LQ) untuk mengidentifikasi wilayah basis partai politik, analisis Getis-Ord G* untuk mengetahui pola pengelompokan spasial, serta Bivariate Moran’s LISA dan Uji Korelasi Pearson untuk menganalisis hubungan spasial antara suara partai pendukung dan suara pasangan calon wali kota.

Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi spasial, yaitu partai pendukung Paslon 1 Heroe-Pena dan Paslon 3 Afnan-Singgih menunjukkan adanya hubungan spasial positif dan didukung oleh koefisien korelasi Pearson yang kuat, sehingga mengindikasikan adanya perilaku memilih linear secara spasial. Sebaliknya, Paslon 2 Hasto-Wawan tidak menunjukkan hubungan spasial yang signifikan, meskipun memiliki koefisien korelasi Pearson yang kuat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kemenangan Paslon 2 tidak hanya dipengaruhi oleh basis wilayah partai, tetapi juga oleh faktor lain di luar aspek kewilayahan. Secara keseluruhan, hubungan antara Pileg dan Pilwalkot di Kota Yogyakarta menunjukkan pola yang beragam dan dipengaruhi oleh karakter wilayah serta perilaku pemilih.

Legislative elections and mayoral elections are two electoral processes that involve the same actors, namely political parties. In 2024, these elections were held in close temporal proximity, creating the potential for linear voting behavior, defined as voters’ tendency to support both a political party and the mayoral candidate pair endorsed by that party. However, studies examining the spatial relationship between legislative and mayoral election outcomes, particularly from a political geography perspective at the urban scale, remain limited. Therefore, this study aims to identify the territorial strongholds of political parties supporting mayoral candidates in legislative elections, analyze the spatial patterns of vote distribution, and examine the spatial association between political party victories in legislative elections and the vote shares of the candidate pairs they support in the 2024 Yogyakarta Mayoral Election.

This study adopts region as the unit of analysis in Yogyakarta City and utilizes secondary data derived from the official vote tabulation of the 2024 Legislative and Mayoral Elections published by the Yogyakarta City General Election Commission (KPU). The analytical framework integrates Location Quotient (LQ) analysis to delineate party territorial strongholds, Getis-Ord Gi* statistics to detect spatial clustering, and Bivariate Moran’s Local Indicators of Spatial Association (LISA) combined with Pearson’s correlation analysis to assess the spatial relationship between party vote shares and mayoral candidate vote shares.

The results reveal notable spatial variation in electoral outcomes. Supporting parties of Candidate Pair 1 Heroe-Pena and Candidate Pair 3 Afnan-Singgih exhibit positive spatial associations supported by strong Pearson correlation coefficients, indicating the presence of spatially linear voting behavior. In contrast, Candidate Pair 2 Hasto-Wawan does not demonstrate a significant spatial relationship despite a strong Pearson correlation, suggesting that their electoral victory is influenced not only by party territorial bases but also by non-spatial factors. Overall, the relationship between legislative and mayoral elections in Yogyakarta City is heterogeneous, shaped by territorial characteristics and voter behavior dynamics.

Kata Kunci : Geografi politik, Linearitas pemilih, Pemilihan Legislatif, Pemilihan Wali Kota, Spatial voting behavior

  1. S1-2026-493184-abstract.pdf  
  2. S1-2026-493184-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-493184-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-493184-title.pdf