APLIKASI SPEKTROSKOPI FTIR DAN KEMOMETRIKA UNTUK KLASIFIKASI SERBUK JAHE BERDASARKAN VARIETAS DAN ASAL GEOGRAFIS
Pricillia Putri Angeline, Dr. apt. Agustina Ari Murti Budi Hastuti, S.Farm., M.Sc.
2026 | Skripsi | FARMASI
Jahe (Zingiber officinale) merupakan komoditas herbal penting yang
banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Mutu dan nilai
ekonomi jahe dipengaruhi oleh varietas serta asal geografis yang menentukan
komposisi kimia bahan aktifnya. Namun, dalam bentuk serbuk, identifikasi varietas
dan asal jahe secara konvensional menjadi sulit dilakukan karena hilangnya
karakter morfologi. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang cepat,
objektif, dan non-destruktif untuk autentikasi serbuk jahe. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji kemampuan kombinasi spektroskopi Fourier Transform Infrared
(FTIR) dan analisis kemometrika dalam mengklasifikasikan serbuk jahe
berdasarkan varietas dan asal geografis.
Penelitian ini menggunakan 121 sampel serbuk jahe yang terdiri atas sampel
dari petani lokal berbagai daerah di Indonesia serta sampel komersial dari pasar
internasional. Spektrum FTIR diperoleh pada rentang bilangan gelombang 4000
550 cm?¹ sebagai spektrum sidik jari kimia. Data spektrum kemudian dianalisis
menggunakan metode kemometrika Principal Component Analysis (PCA) dan
Hierarchical Cluster Analysis (HCA) untuk mengevaluasi pola pengelompokan
sampel berdasarkan kesamaan karakteristik kimia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sampel serbuk jahe belum dapat
terklasifikasikan secara jelas baik berdasarkan varietas maupun asal geografis. Plot
PCA dan dendrogram HCA memperlihatkan adanya tumpang tindih antar
kelompok, yang mengindikasikan bahwa perbedaan komposisi kimia antar sampel
bersifat lebih kuantitatif daripada kualitatif. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa kombinasi FTIR, PCA, dan HCA dalam penelitian ini belum mampu
memberikan klasifikasi serbuk jahe yang tegas. Meskipun demikian, metode ini
tetap memiliki potensi sebagai pendekatan autentikasi awal yang cepat dan non
destruktif, dengan pengembangan lebih lanjut menggunakan metode kemometrika
supervisi.
Ginger (Zingiber officinale) is an important herbal commodity widely used
in the food, pharmaceutical, and cosmetic industries. The quality and economic
value of ginger are influenced by its variety and geographical origin, which
determine its chemical composition. However, in powdered form, conventional
identification becomes difficult due to the loss of morphological characteristics.
Therefore, a rapid, objective, and non-destructive analytical method is required for
ginger powder authentication. This study aimed to evaluate the capability of
Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy combined with chemometric
analysis in classifying ginger powder based on variety and geographical origin.
A total of 121 ginger powder samples were analyzed, consisting of samples
obtained from local farmers in various regions of Indonesia and commercial
samples from international markets. FTIR spectra were recorded in the
wavenumber range of 4000–600 cm?¹ to obtain chemical fingerprint profiles. The
spectral data were further processed using Principal Component Analysis (PCA)
and Hierarchical Cluster Analysis (HCA) to evaluate clustering patterns based on
chemical similarity.
The results showed that ginger powder samples could not be clearly
classified according to either variety or geographical origin. PCA score plots and
HCA dendrograms demonstrated considerable overlap among sample groups,
indicating that chemical differences were more quantitative than qualitative in
nature. Therefore, it can be concluded that the combination of FTIR, PCA, and HCA
in this study has not yet provided definitive classification of ginger powder.
Nevertheless, this approach remains promising as a rapid and non-destructive
preliminary screening method for ginger authentication, particularly when
supported by more specific analytical techniques and supervised chemometric
models.
Kata Kunci : jahe, FTIR, varietas, asal geografis, autentikasi