Laporkan Masalah

Produksi Ruang Pulau Kecil dan Pesisir di Kawasan Pulau Noko, Pulau Gili, dan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Liyana Amalina, Indah Surya Wardhani, Dr., S.Sos., M.Sc

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Wilayah pesisir tidak lagi hanya dipahami semata sebagai ruang ekologis dan ruang hidup masyarakat setempat, melainkan semakin berkembang sebagai ruang strategis bagi sektor pariwisata. Penelitian ini berangkat dari keresahan masyarakat terhadap pendekatan pembangunan yang menempatkan ruang pesisir sebagai objek ekonomi, tanpa memperhitungkan kompleksitas relasi sosial, nilai budaya, dan praktik keseharian masyarakat pulau kecil. Pulau Noko, yang terletak dalam gugus kepulauan Bawean–Gili di Kabupaten Gresik, Jawa Timur mengalami pergeseran fungsi dari ruang ekologis bersama menuju ruang ekonomi melalui wacana pariwisata unggulan desa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ketimpangan relasi kekuasaan dan absennya regulasi yang tegas menghasilkan produksi ruang yang tidak sempurna, serta bagaimana masyarakat Gili merespons perubahan tersebut dalam praktik keseharian mereka. Menggunakan kerangka teori produksi ruang Henri Lefebvre, triadik dimensi ruang: conceived space (ruang yang dikonsepsikan), perceived space (ruang yang dipraktikkan), dan lived space (ruang yang dihidupi) memungkinkan analisis yang tidak hanya berfokus pada kebijakan dan perencanaan, tetapi juga pada praktik ruang dan pemaknaan ruang. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan penekanan pada mobilitas peneliti mengikuti ritme kehidupan masyarakat Pulau Gili dan Pulau Bawean. Hasil dari penelitian ini adalah ketidaksinkronan antara conceived, lived, dan perceived space menghasilkan kondisi liminal dalam produksi ruang Pulau Noko. Selama ketidaksinkronan antar dimensi ruang dan ketimpangan kekuasaan terus berlangsung, transformasi ruang akan tetap bersifat sementara, tidak stabil, dan selalu berada dalam kondisi yang liminal. 

ABSTRACT

Coastal areas are no longer understood merely as ecological spaces and living environments for local communities; they have increasingly developed into strategic spaces for the tourism sector. This study originates from community concerns regarding development approaches that position coastal areas as economic objects without considering the complexity of social relations, cultural values, and the everyday practices of small island communities. Pulau Noko, located within the Bawean–Gili archipelago in Gresik Regency, East Java, has experienced a functional shift from a shared ecological space to an economic space through the discourse of a flagship village tourism destination.

This research aims to analyze how unequal power relations and the absence of firm regulations result in an imperfect production of space, as well as how the Gili community responds to these changes in their daily practices. Using Henri Lefebvre’s theory of the production of space, the triadic spatial dimensions—conceived space, perceived space, and lived space—enable an analysis that focuses not only on policy and planning but also on spatial practices and meanings. This study employs an ethnographic approach, emphasizing the researcher’s mobility in following the rhythms of life in Pulau Gili and Pulau Bawean.

The findings indicate that the lack of synchronization between conceived, lived, and perceived space produces a liminal condition in the spatial production of Pulau Noko. As long as this misalignment between spatial dimensions and power inequalities persists, spatial transformation will remain temporary, unstable, and continuously in a liminal state.

Keywords: Production of Space, Coastal Areas, Tourism, Spatial Transformation, Capitalization of Space

Kata Kunci : Produksi Ruang, Pesisir, Pariwisata, Tranformasi Ruang, Kapitalisasi Ruang

  1. S1-2026-496928-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496928-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496928-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496928-title.pdf