Relasi Kuasa dan Konstruksi Identitas Kolektif Mahasiswa Berbahasa Ngapak pada Forum Mahasiswa Purbalingga Universitas Gadjah Mada
Sabri Indrajati, Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A.
2022 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini mengkaji bagaimana bahasa Ngapak dipraktikkan, dimaknai, dan dinegosiasikan oleh mahasiswa asal Purbalingga yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Purbalingga Universitas Gadjah Mada (FORMAGA) dalam konteks relasi kuasa bahasa di lingkungan kampus. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kritikal etnografi, penelitian ini melibatkan 10 informan yang terdiri atas anggota dan pengurus FORMAGA. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) serta observasi partisipan yang dilakukan di Yogyakarta dan Purbalingga pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Analisis difokuskan pada praktik penggunaan bahasa, pengalaman stereotip dan marjinalisasi, serta peran organisasi mahasiswa daerah sebagai ruang produksi dan negosiasi identitas kolektif.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa bahasa Ngapak berada dalam posisi subordinat dalam struktur kebahasaan kampus, yang mendorong mahasiswa untuk melakukan penyesuaian bahasa sebagai bentuk disiplin diri dan strategi bertahan. Namun demikian, FORMAGA berfungsi sebagai ruang aman dan ruang kultural yang memungkinkan resistensi simbolik terhadap dominasi bahasa melalui solidaritas, afirmasi identitas, dan penggunaan bahasa Ngapak secara bebas dalam konteks internal. Penelitian ini menegaskan bahwa praktik kebahasaan tidak bersifat netral, melainkan terikat erat dengan relasi kuasa, pengakuan sosial, dan perjuangan identitas kolektif. Dengan demikian, FORMAGA tidak hanya berperan sebagai organisasi kedaerahan, tetapi juga sebagai arena politik kultural tempat mahasiswa Ngapak mereproduksi sekaligus menantang struktur dominan kebahasaan di lingkungan kampus.
Kata Kunci: Bahasa Ngapak, Relasi Kuasa, Identitas Kolektif, Stereotip, Ruang aman
This study examines how the Ngapak language is practiced, interpreted, and negotiated by students from Purbalingga who are members of the Forum Mahasiswa Purbalingga Universitas Gadjah Mada (FORMAGA) within the context of linguistic power relations in the campus environment. Employing a qualitative approach with a critical ethnographic method, this research involved 10 informants consisting of FORMAGA members and administrators. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), and participant observation conducted in Yogyakarta and Purbalingga from December 2025 to February 2026. The analysis focuses on language practices, experiences of stereotypes and marginalization, and the role of regional student organizations as spaces for the production and negotiation of collective identity.
The findings reveal that the Ngapak language occupies a subordinate position within the campus linguistic structure, encouraging students to adjust their language use as a form of self-discipline and survival strategy. However, FORMAGA functions as a safe and cultural space that enables symbolic resistance to language dominance through solidarity, identity affirmation, and the free use of Ngapak within internal contexts. This study emphasizes that language practices are not neutral but are closely tied to power relations, social recognition, and the struggle for collective identity. Thus, FORMAGA serves not only as a regional organization but also as a cultural-political arena where Ngapak-speaking students reproduce and challenge dominant linguistic structures within the campus environment.
Keywords: Ngapak Language, Power Relations, Collective Identity, Stereotypes, Safe Space
Kata Kunci : Bahasa Ngapak, Relasi Kuasa, Identitas Kolektif, Stereotip, Ruang aman