Neoliberalisme dan Perampasan Lahan dalam Proyek Pembangunan Taman Nasional Komodo
Achmad Zainuddin Hidayatullah, Prof. Dr. Dafri Agussalim. M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Pembangunan ekowisata di Taman Nasional Komodo (TNK) memperlihatkan fenomena privatisasi dan komodifikasi yang terjadi di era neoliberalisme. Konservasi yang biasanya diidentikkan dengan pelestarian alam justru berubah menjadi proyek bercorak kapitalistik dan ajang perampasan lahan masyarakat Ata Modo. Beberapa penelitian sebelumnya berhenti dalam pemeriksaan mengenai kacaunya tata kelola TNK, dampak terhadap masyarakat Ata Modo, serta upaya perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Ata Modo. Kondisi ini memberi celah bagi studi ekonomi-politik geografis yang mengkaji tentang latar belakang dari proses akumulasi di era neoliberalisme dan konsekuensi atas pembentukan ruang untuk proses akumulasi, yakni perampasan lahan. Dengan menggunakan teori spatio-temporal fix dan Accumulation by Disposession (AbD) dari David Harvey, penelitian ini menganalisis tentang latar belakang terjadinya proses akumulasi di TNK serta bagaimana proses perampasan lahan yang terjadi di TNK. Temuan penilitian menampilkan bahwa pembangunan ekowisata di TNK merupakan bentuk dari spatio-temporal fix di era neoliberalisme. Krisis akumulasi berlebih dalam sistem kapitalisme menyebabkan pembentukan ruang-ruang baru untuk menyerap surplus kapital. Pembangunan ekowisata TNK adalah salah satu bagiannya, yakni menginkorporasikan kawasan lindung dengan pasar berupa ekowisata. Pembentukan ruang baru bagi surplus kapital tidak bisa dijalankan tanpa adanya pembukaan lahan. Dalam konteks ini, negara memiliki peran sognifikan untuk melakukan perampasan lahan menggunakan kapasitasnya dalam memanipulasi hukum, memobilisasi kekerasan dan paksaan.
The development of ecotourism in Komodo National Park (TNK) reveals the phenomenon of privatization and commodification that has occurred in the neoliberal era. Conservation, which is usually identified with nature preservation, has turned into a capitalistic project and a means of seizing the land of the Ata Modo community. Previous studies have focused on examining the chaotic management of TNK, its impact on the Ata Modo community, and the resistance efforts undertaken by the Ata Modo community. This situation provides an opportunity for a geographical political-economic study that examines the background of the accumulation process in the neoliberal era and the consequences of the creation of space for the accumulation process, namely land grabbing. Using David Harvey's spatio-temporal fix and Accumulation by Dispossession (AbD) theories, this study analyzes the background of the accumulation process in TNK and how land grabbing occurs in TNK. The findings show that the development of ecotourism in TNK is a form of spatio-temporal fix in the neoliberal era. The crisis of over-accumulation in the capitalist system has led to the creation of new spaces to absorb surplus capital. The development of TNK ecotourism is one such space, incorporating protected areas into the ecotourism market. The creation of new spaces for surplus capital cannot be carried out without land clearing. In this context, the state plays a significant role in land grabbing by manipulating the law and mobilizing violence and coercion.
Kata Kunci : Taman Nasional Komodo, Neoliberalisme, Perampasan Lahan, Spatio-Temporal Fix, Accumulation by Disposession