Pengaruh Peristiwa 1965 terhadap perubahan identitas korban :: Studi kasus desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali
FEBRIANA, Ira, Dr. Nanang Pamuji Mugasejati
2005 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional (Magister Perdamaian dan ResPenelitian ini bertujuan mengkaji dampak ‘peristiwa 1965†terhadap identitas korban sebelum peristiwa, pada saat kejadian dan setelah peritiwa hingga tahun 1998. Sedangkan tujuan strategisnya adalah merupakan kontribusi bagi gerakan rekonsiliasi yaitu dengan cara memenuhi kebutuhan identitas korban “peristiwa 1965â€. Penelitian menggunakan metode deskriptif eksploratif, kualitatif, menghimpun data tanpa hipotesis. Penelitian ini merupakan penelitian aksi partisipatif dimana memadukan aksi dan refleksi, teori dan praktek, dalam pencarian solusi praktis untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, memajukan individu maupun negara, sehingga memiliki keberpihakan terhadap korban “ peristiwa 1965â€. Penelitian ini merupakan bagian dari penulisan sejarah lisan sehingga bertujuan menyuarakan suara kelompok yang voiceless yaitu korban “peristiwa 1965â€. Menurut Turner, 1982, identitas individual dipengaruhi oleh identitas kolektif dan bersifat cair. Peristiwa 1965 telah merubah identitas individual/ personal korban “ peristiwa 1965†yang berasal dari desa Randusari, kecamatan Teras, kabupaten Boyolali. Identitas istri beserta seluruh isi somahnya juga berubah. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan identitas politik, sosial serta pemenuhan kebutuhan diri atas penghargaan, rasa aman, aksi, arti dan keterkaitan dengan relasi sosialnya. Masyarakat tumbuh bersama dan memaknai kerukunan, prinsip hormat dan tumbuh dalam ikatan kawinmawin. Semua saling bergabung dan berbagi dalam sistem sosial yang fungsional dan menjadi jaminan keamanan dan rasa tenteram bagi mereka. Perubahan identitas ditandai dengan adanya tahap ancaman akibat invalidasi yang dilakukan oleh Pak Modin yang tidak ditanggapi dengan invalidasi oleh masyarakat. Peristiwa aksi sepihak menandai peningkatan tahapan ke tahap distorsi. Peristiwa 1965 terjadi akibat rigidifikasi yang dilakukan terus menerus oleh Suharto sehingga mengakibatkan stereotype, homogenisasi dan dehumanisasi dengan adanya statemen kafir harbi dan burghot bagi PKI. Ketika peristiwa 1965 terjadi perempuanlah yang menjaga anak dan orang tua ketika suami menyelamatkan diri. Setelah suami ditahan akibatnya beban produksi perempuan lebih tinggi, sedangkan tidak ada yang memberi bantuan sama sekali. Ikatan gotong royong antar somah, keluarga, trah dan masyarakat pecah akibat peristiwa 1965. Tidak ada penghargaan masyarakat terhadap perempuan istri tapol. Mereka juga tidak lagi bisa memelihara dan melindungi diri dari ancaman terhadap rasa aman, kehilangan penghargaan di masyarakat maupun keluarganya, kehilangan kemampuan untuk aktualisasi diri, kehilangan hubungan/ interaksi dengan relasi sosial disekitarnya dan bahkan kehilangan akan arti dirinya. Sekembalinya dari tahanan, sistem budaya Jawa menjadi tempat penyesuaian semua pihak, pelaku dan korban.Kepulangan disambut dengan budaya kunjung mengunjungi seperti hajatan, baik oleh tatangga maupun pelaku. Namun diskriminasi sistematis dari negara terhadap tahanan politik dan keluarganya berakibat pada kehilangan potensi aksi. Sedemikian parahnya dampak diskriminasi hingga menimbulkan kebutuhan isotymos. Keterhubungan tetap terputus namun para tapol dan keluarganya mencoba menjalin kembali keterputusan dengan cara sesuai dengan kultur jawa yaitu gotong royong membantu yang berkesusahan, termasuk pada tetangga yang menjadi pelaku peristiwa 1965. Tapol dan keluarganya tidak pernah mendendam karena mereka masih percaya pada alam dan nilai jawa dimana karma berlaku. Sedangkan sebagai pelaku pembunuhan dan penjarahan mereka cenderung mulai menarik diri dari interaksi sosial kemasyarakatan akibat tindakan yang telah mereka lakukan pada tetangganya sebagai wujud upaya rukun dalam konsep jawa. Namun disisi lain beberapa tokoh NU kabupaten Boyolali yang terlibat dalam peristiwa 1965 memasuki tahapan kolusi, dimana mereka memelihara identitas sebagai pahlawan bangsa karena “menyelamatkan†Indonesia dari pemberontakan.
The research intended to identify the impact of “1965 tragedy†towards identity of the victim. Strategically, it also contributed to the reconciliation movement by fulfilling the identity need of the victim. It was descriptive, explorative, qualitative research without using hypothesis. As participatory action research, it combined action and reflection, theoretical and practical perspective to search practical solution to increase community awareness as well as individual or state level to take side for the victim of 1965 tragedy. The research was also part of oral history documentation by giving voice to the voiceless group, the victim of “1965 tragedyâ€. According to Turner, 1982, personal identity is influenced by collective identity. The “1965 tragedy†has changed the personal identity of the victim at Randusari village, teras sub district, boyolali district. The identity of the victim’s household members have changed, due to the political, social identity changing and the fulfillment of the identity needs: security, connectedness, action, meaning and recognition. Before the tragedy, community lives in the principle of rukun, urmat, and bonds in inter-marital relationship. Everyone had shared and joint in the functional social system as source of security. Identity changing was started by the phase of threat when the pak modin was invalidating the community which was not responded with the same invalidating process. The aksi sepihak was the next stage of the threat into distortion level. The “1965 tragedy†occurred because of the constant rigidification by Soeharto that created stereotypical, homogenization and dehumanization towards PKI. It was lead to the statement of kafir harbi and kafir burghot towards PKI. When the “1965 tragedy†occurred, it was women who taking care of the children along with the elder while their husbands fled to survive. After husbands were imprisonment, the production load of women was increased, while no one help them. The gotong royong among somah, extended family and community was eradicated. There was no recognition towards wive of ex tapol. They could no longer maintain the self from the threat from security, lost recognition within society and family, lost the ability for actualization, lost the social relationship with the environment and even lost the meaning of the self. Returning from prison, the Javanese culture had being an adjustment locus for parties, victim and offender. The returnees were celebrated by hajatan tradition, by neighbor, victim and offender family. But the systematical discrimination action by State has annihilated the potency for action for the victim. It was created the need for isotymos badly. The sense of connectedness was still disrupted but the family of victim was trying to rebuilt the relationship by gotong royong to help those people who needed, including to offender family. Ex Tapol and his/her family never hate to the offender since they believe on nature, Javanese world of view when the karma is exist. In another side, the offender is withdrawn their participation from social interaction as manifestation of rukun concept after what they did to their neighbor. But in another way, few NU leaders from Boyolali district who is involved in the massacre, are entering the stage of collusion by maintaining their identity as heroes (defender of the nation) from the putch .
Kata Kunci : Identitas Sosial,Korban G30S 1965