Perempuan Elit Pribumi Sebagai Representasi Budaya di Ruang Kolonial: Ambivalensi Representasi Budaya Jawa dalam Perjalanan Gusti Nurul ke Belanda (1937)
Dyahayu Sekar Anggarini, Prof. Dr. Drs. Dafri Agussalim, M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini membahas representasi budaya Jawa yang dijalankan oleh perempuan elit pribumi dalam konteks kolonial melalui studi kasus perjalanan Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII, ke Belanda pada tahun 1937. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana identitas budaya Jawa ditampilkan dan dimediasi dalam ruang kolonial Eropa, serta bagaimana posisi perempuan elit pribumi berperan dalam praktik representasi budaya tersebut. Penelitian ini menempatkan perjalanan Gusti Nurul bukan sekadar sebagai peristiwa kebudayaan, melainkan sebagai bagian dari relasi sosial, politik, dan simbolik antara elite Jawa dan otoritas kolonial Belanda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus historis. Data diperoleh melalui studi arsip kolonial, dokumentasi visual, literatur sejarah, serta wawancara naratif dengan informan yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan keraton. Analisis dilakukan menggunakan perspektif poskolonial untuk membaca praktik representasi budaya sebagai bagian dari wacana kolonial yang membentuk relasi kuasa dan identitas. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menggambarkan dinamika representasi budaya Jawa dalam ruang kolonial serta posisi perempuan elit pribumi di dalamnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai peran perempuan elit pribumi sebagai aktor kultural dalam konteks kolonial, serta memperkaya kajian hubungan internasional dan sejarah budaya dengan perspektif yang menekankan relasi antara budaya, kekuasaan, dan identitas.
This study examines the representation of Javanese culture performed by indigenous elite women within the colonial context through a case study of the 1937 journey of Gusti Nurul, daughter of Mangkunegara VII, to the Netherlands. The research focuses on how Javanese cultural identity was displayed and mediated within European colonial spaces, as well as how indigenous elite women positioned themselves within these practices of cultural representation. It situates Gusti Nurul’s journey not merely as a cultural event, but as part of broader social, political, and symbolic relations between the Javanese elite and Dutch colonial authorities. This study employs a qualitative approach using a historical case study method. Data were collected through archival research of colonial records, visual documentation, historical literature, and narrative interviews with informants connected to the palace (keraton) environment. The analysis is conducted using a postcolonial perspective to interpret cultural representation as part of colonial discourse that shapes power relations and identity formation. Through this approach, the study seeks to illustrate the dynamics of Javanese cultural representation within colonial spaces and the position of indigenous elite women within them. The findings are expected to provide a deeper understanding of the role of indigenous elite women as cultural actors in the colonial context, as well as to contribute to the fields of international relations and cultural history by offering a perspective that emphasizes the interplay between culture, power, and identity.
Kata Kunci : Gusti Nurul, Perempuan elit pribumi, Poskolonialisme, Representasi budaya subaltern, Kolonialisme