Laporkan Masalah

Menelisik Pengalaman Perempuan Dalam Peningkatan Kapasitas Melalui Program Putaran Sumringah Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Anggraeni Nimas Wijayanti, Milda Longgeita Br. Pinem., S.Sos., M.A., Ph.D.

2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Permasalahan perempuan di Indonesia masih ditandai oleh tingginya angka kekerasan, rendahnya partisipasi politik, serta kesenjangan ekonomi berbasis gender. Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam provinsi dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan yang tinggi, dengan 328 kasus kekerasan fisik, 335 kasus kekerasan psikis, dan 118 kasus kekerasan seksual (SIGA KEMENPPA, 2024). Partisipasi politik perempuan juga belum mencapai target keterwakilan 30%, dimana keterwakilan perempuan di parlemen nasional pada tahun 2023 sebesar 22,14%. Di tingkat lokal, Kabupaten Sleman mengalami penurunan keterwakilan perempuan di parlemen dari 28% pada tahun 2022 menjadi 26% pada tahun 2023. Selain itu, kesenjangan upah masih terjadi, dengan rata-rata upah per jam pekerja laki-laki sebesar Rp20.125 dan perempuan Rp16.779. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural dalam memperoleh akses, partisipasi, dan manfaat pembangunan secara setara.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas P3AP2KB menyelenggarakan Program Putaran Sumringah (Pusat Pembelajaran Perempuan Semua Merasa Riang Menggapai Harapan) sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan perempuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengalaman perempuan dalam proses peningkatan kapasitas melalui program tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap delapan informan yang terdiri dari penyelenggara program, fasilitator, dan peserta yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi serta dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, triangulasi, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas perempuan dalam Program Putaran Sumringah terbentuk melalui dinamika relasi kuasa, partisipasi perempuan, serta pengalaman berlapis yang dialami peserta. Pada dimensi resources, program memperluas akses perempuan terhadap pengetahuan dan ruang belajar. Pada dimensi agency, perempuan menunjukkan peningkatan partisipasi dalam diskusi dan kegiatan komunitas serta mulai menegosiasikan relasi kuasa di ranah sosial maupun keluarga. Pada dimensi achievements, perempuan merasakan peningkatan kepercayaan diri, kemampuan menyampaikan pendapat, dan perluasan jejaring sosial yang mendukung keterlibatan di ruang publik. Namun demikian, pengalaman berlapis terkait latar sosial, peran domestik, dan norma gender masih membatasi partisipasi perempuan secara penuh. Dengan demikian, Program Putaran Sumringah berperan sebagai ruang awal dalam proses pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kapasitas, meskipun perubahan relasi kuasa yang lebih transformatif masih memerlukan dukungan struktural yang berkelanjutan.

Women’s issues in Indonesia are still characterized by high levels of violence, low political participation, and gender-based economic inequality. The Special Region of Yogyakarta is among the provinces with a high rate of violence against women, recording 328 cases of physical violence, 335 cases of psychological violence, and 118 cases of sexual violence (SIGA KEMENPPA, 2024). Women’s political participation has not yet reached the minimum representation target of 30%, with women’s representation in the national parliament recorded at 22.14% in 2023. At the local level, women’s representation in the Sleman Regency parliament decreased from 28% in 2022 to 26% in 2023. In addition, gender wage gaps persist, with the average hourly wage of male workers reaching Rp20,125, while female workers earn Rp16,779. These conditions indicate that women still face structural barriers in accessing resources, participation, and the benefits of development.

In response to these challenges, the Sleman Regency Government through the P3AP2KB Office implemented the Putaran Sumringah Program (Pusat Pembelajaran Perempuan Semua Merasa Riang Menggapai Harapan) as a learning and empowerment space for women. This study aims to analyze women’s experiences in the process of capacity building through the program. This research employs a qualitative case study approach involving eight informants consisting of program organizers, facilitators, and participants selected through purposive sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed through data reduction, data display, triangulation, and conclusion drawing.

The results show that women’s capacity building in the Putaran Sumringah Program is shaped by the dynamics of power relations, women’s participation, and layered experiences experienced by participants. In the resources dimension, the program expands women’s access to knowledge and learning spaces. In the agency dimension, women demonstrate increased participation in discussions and community activities and begin to negotiate power relations within social and family contexts. In the achievements dimension, women experience increased self-confidence, improved ability to express opinions, and expanded social networks that support their engagement in public spaces. However, layered experiences related to social background, domestic roles, and gender norms still limit women’s full participation. Therefore, the Putaran Sumringah Program serves as an initial space for women’s empowerment through capacity building, although more transformative changes in power relations still require sustained structural support.

Kata Kunci : pemberdayaan perempuan, peningkatan kapasitas, pengalaman perempuan, Putaran Sumringah/women’s empowerment, capacity building, women’s experiences, Putaran Sumringah Program.

  1. S1-2026-505068-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505068-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505068-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505068-title.pdf