HUBUNGAN TANPA STATUS (HTS): PERGESERAN STANDAR KOMITMEN ROMANTIS DAN KONSTRUKSI IDENTITAS SUBKULTUR BARU PADA GEN Z URBAN
Hendrawan Putra Pamungkas, Prof. Dr. Irwan Abdullah
2026 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Fenomena Hubungan Tanpa Status (HTS) semakin marak dipraktikkan oleh Gen Z, khususnya di ruang urban. Praktik relasi romantis ini menekankan pada penolakan status formal seperti pada praktik pacaran. Ketiadaan status sebagai legitimasi relasi romantis yang dijalankan, tidak menjadikan praktik HTS berjalan tanpa adanya kedekatan emosional, afeksi, dan komitmen. Hubungan Tanpa Status (HTS) justru muncul sebagai tanda pergeseran standar komitmen romantis yang terjadi di kalangan Gen Z urban. Komitmen romantis tidak lagi dimaknai sebagai keterikatan formal, melainkan sebagai sesuatu yang lebih fleksibel dan berbasis pada kesepakatan subjektif. Munculnya fenomena Hubungan Tanpa Status (HTS) di kalangan Gen Z tidak lepas dari kehidupan urban kontemporer dan peran media sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik Hubungan Tanpa Status (HTS) mencerminkan pergeseran standar komitmen romantis dan konstruksi identitas subkultur baru pada Gen Z urban. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Data pada penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari sudut pandang sembilan pelaku HTS yang dieksplorasi melalui wawancara secara mendalam. Data sekunder diperoleh melalui observasi online terhadap konten-konten media sosial yang merepresentasikan praktik, wacana, dan narasi mengenai Hubungan Tanpa Status (HTS). Pendekatan interpretatif digunakan untuk memahami pengalaman subjektif para informan dengan menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai landasan dalam memahami pemaknaan subjektif atas komitmen melalui ritual interaksi dan komunikasi, serta teori konstruksi social atas realitas untuk memahami normalisasi praktik Hubungan Tanpa Status (HTS) sebagai bentuk relasi romantis yang sah dalam ruang urban kontemporer.
Hasil penelitian berhasil menunjukkan bahwa makna komitmen romantis tidak lagi dipahami sebagai keterikatan formal dan eksklusif, melainkan menekankan pada kebebasan, kepercayaan, dan fleksibilitas yang berdasar pada kesepakatan subjektif. Media sosial juga ikut berkontribusi dalam membentuk norma relasi baru melalui distribusi bahasa, kode relasional, dan representasi relasi non-formal. Penelitian ini juga berhasil menunjukkan adanya pemberian afeksi yang diekspresikan secara selektif dan menunjukkan adanya eksklusivitas dalam praktik HTS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik Hubungan Tanpa Status (HTS) pada Gen Z urban merepresentasikan pergeseran standar komitmen romantis sekaligus menunjukkan bahwa praktik HTS tidak hanya berfungsi sebagai relasi romantis alternatif, melainkan juga berfungsi sebagai identitas subkultur Gen Z urban yang menekankan fleksibilitas dan hak-hak otonomi personal.
Kata kunci: HTS, Gen Z, Komitmen Romantis, Identitas Subkultur.
The phenomenon of Hubungan Tanpa Status (HTS) has become increasingly prevalent among Generation Z, particularly in urban settings. This form of romantic practice emphasizes the rejection of formal relationship status commonly found in conventional dating relationships. The absence of formal status as a source of relational legitimacy does not imply the absence of emotional closeness, affection, or commitment within HTS. Instead, HTS emerges as an indicator of a shifting standard of romantic commitment among urban Generation Z. Romantic commitment is no longer primarily understood as a formal or institutionalized bond, but rather as a flexible arrangement based on subjective agreements between individuals. The emergence of HTS among Generation Z cannot be separated from the context of contemporary urban life and the significant role of social media.
The study aims to analyze how the practice of Hubungan Tanpa Status (HTS) reflects shifts in the standards of romantic commitment and contributes to the construction of new subcultural identity among urban Generation Z. This research employs a qualitative method with an interpretative approach. The data consist of both primary and secondary sources. Primary data were obtained from in-depth interviews with ten individuals who actively engage in HTS. Secondary data were collected through online observation of social media content that represents practices, discourses, and narratives surrounding Hubungan Tanpa Status (HTS). The interpretative approach in used to understand the informants’ subjective experiences by employing symbolic interactionism to examine the subjective meanings of commitment as constructed through interaction rituals and communication patterns, as well as the theory of the social construction of reality to analyze the normalization of HTS as a legitimate form of romantic relationship within contemporary urban spaces.
The findings indicate that romantic commitment is no longer understood as a formal and exclusive attachment, but instead emphasize freedom, trust, and flexibility grounded in subjective agreements. Social media plays a significant role in shaping new relational norms trough the circulation of language, relational codes, and representations of non-formal relationships. The study also reveals that affection within HTS is expressed selectively and that certain forms of exclusivity remain present in these relationships. This study concludes that the practices of HTS among urban Generation Z represents a shift in the standards of romantic commitment and demonstrates that HTS functions not only as an alternative form of romantic relationship, but also as a subcultural identity that emphasizes flexibility and personal autonomy.
Keywords: HTS, Gen Z, Romantic Commitment, Subcultural Identity.
Kata Kunci : HTS, Gen Z, Komitmen Romantis, Identitas Subkultur/HTS, Gen Z, Romantic Commitment, Subcultural Identity.