Laporkan Masalah

Lanskap Linguistik pada Penamaan Menu Tempat Makan Bertema Korea di Daerah Istimewa Yogyakarta

Virgi Agus Susanti, Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D

2026 | Skripsi | BAHASA KOREA

Penelitian ini mengkaji penamaan menu pada tempat makan bertema Korea di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari kajian lanskap linguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian berupa nama-nama menu makanan yang diperoleh melalui metode dokumentasi dan observasi, baik secara langsung maupun melalui media daring. Sebanyak 854 nama menu dianalisis menggunakan teori penamaan Chaer (2009) serta teori lanskap linguistik Landry dan Bourhis (1997), khususnya pada aspek pola kebahasaan dan fungsi bahasa dalam ruang publik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sembilan klasifikasi penamaan menurut Chaer (2009), hanya empat kategori yang ditemukan secara empiris, yaitu penamaan berdasarkan bahan, tempat asal, pemendekan, dan keserupaan. Penamaan berdasarkan bahan merupakan kategori yang paling dominan. Lima kategori lainnya, yaitu penyebutan sifat khas, penamaan baru, penyebutan bagian, penemu dan pembuat, serta peniruan bunyi, tidak ditemukan dalam data penelitian.

Dari aspek pola kebahasaan, penamaan menu tersebut memperlihatkan penggunaan bentuk monolingual, bilingual, dan multilingual. Dalam perspektif lanskap linguistik Landry dan Bourhis (1997), penamaan menu menjalankan dua fungsi utama, yaitu fungsi informatif yang menjelaskan karakter dan komposisi hidangan, serta fungsi simbolis yang merepresentasikan identitas budaya Korea di ruang publik. Temuan ini menunjukkan bahwa penamaan menu tidak hanya menyampaikan informasi mengenai hidangan, tetapi juga sebagai penanda simbolis yang merepresentasikan identitas budaya Korea di ruang publik.

This study explores menu naming practices in Korean-themed restaurants in the Special Region of Yogyakarta as part of the linguistic landscape. Using a qualitative descriptive and analytical approach, the study analyzes food menu names collected through documentation and observation, both on-site and from online sources. A total of 854 menu names were analyzed using the naming theory of Chaer (2009) and the linguistic landscape theory of Landry and Bourhis (1997), particularly focusing on language patterns and language functions in public space.


The findings reveal that only four out of the nine naming classifications identified by Chaer (2009) appear in the data, namely naming based on ingredients, place of origin, abbreviation, and resemblance. Naming based on ingredients is the most dominant category. Five other categories, namely characteristic reference, new naming, part reference, inventors and makers, and sound imitation, are not found in the data.

From the perspective of language patterns, the menu names appear in monolingual, bilingual, and multilingual forms. Based on the linguistic landscape framework of Landry and Bourhis (1997), menu naming serves two main functions: an informative function that explains the characteristics and composition of the dishes, and a symbolic function that represents Korean cultural identity in public space. These findings suggest that menu naming is not only used to provide information about the dishes, but also to serve as a symbolic marker representing Korean cultural identity in the public space.

Kata Kunci : Lanskap linguistik, penamaan menu, tempat makan Korea, Yogyakarta

  1. S1-2026-505497-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505497-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505497-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505497-title.pdf