STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA UDANG VANAME (Penaeus vannamei Boone, 1931) BERKELANJUTAN YANG TERINTEGRASI DENGAN MANGROVE DI KABUPATEN KULON PROGO
Deandra Aurelazeli, Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si ; Prof. Dr., Ir. Djumanto, M.Sc
2026 | Tesis | S2 ILMU PERIKANAN
Pengembangan budidaya udang vaname (Penaeus
vannamei Boone, 1931) di wilayah pesisir memberikan
kontribusi ekonomi yang signifikan, namun berpotensi menimbulkan tekanan
terhadap ekosistem apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi tingkat penerapan Akuakultur dengan Pendekatan
Ekosistem (ADPE) pada budidaya udang vaname yang terintegrasi mangrove di
Kabupaten Kulon Progo, serta merumuskan strategi pengembangan berbasis analisis
kesenjangan (GAP). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif
melalui wawancara terstruktur, observasi lapangan, dan studi dokumentasi.
Penilaian ADPE dilakukan berdasarkan tiga prinsip utama, yaitu keberlanjutan
ekosistem, kesejahteraan dan pemerataan, serta tata kelola terintegrasi yang
mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor
154/PER-DJPB/2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengelolaan budidaya berada
pada kondisi cukup, dengan capaian
nilai akhir sebesar
2,29 (skala 2). Nilai akhir
tersebut diperoleh dari penerapan ADPE pada prinsip keberlanjutan ekosistem (2,48) dan prinsip kesejahteraan pembudidaya (2,44) telah berjalan relatif baik, namun prinsip tata kelola masih
menjadi kelemahan utama yang perlu diperkuat
(1,92). Meskipun masih terdapat kesenjangan pada aspek pengelolaan dan
pemantauan lingkungan, kepatuhan terhadap regulasi, serta monitoring dan evaluasi
kelembagaan. Strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi penguatan
pengelolaan lingkungan berbasis
daya dukung, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta penguatan kapasitas
pembudidaya dan peran pemerintah daerah guna mendukung keberlanjutan akuakultur
pesisir berbasis mangrove.
The
development of whiteleg shrimp aquaculture (Penaeus vannamei Boone,
1931) in coastal areas provides significant economic contributions but may also
exert pressure on ecosystems if not managed sustainably. This study aims to
evaluate the level of implementation of the Ecosystem Approach to Aquaculture
(EAA) in mangrove-integrated whiteleg shrimp farming in Kulon Progo Regency and
to formulate development strategies based on gap analysis (GAP). The research
used a quantitative descriptive approach through structured interviews, field
observations, and documentation studies. The EAA assessment was conducted based
on three main principles: ecosystem sustainability, welfare and equity, and
integrated governance, referring to the Regulation of the Director General of
Aquaculture No. 154/PER-DJPB/2019. The results indicate that aquaculture
management is in a moderate condition with a final score of 2.29 (scale 2).
This score was derived from the implementation of the ecosystem sustainability
principle (2.48) and the farmer welfare principle (2.44), which have been
relatively well implemented, while the governance principle remains the main
weakness that needs to be strengthened (1.92). Although gaps still exist in
environmental management and monitoring, regulatory compliance, as well as
institutional monitoring and evaluation. The recommended development strategies
include strengthening environmental management based on carrying capacity,
improving cross-sectoral coordination, and enhancing the capacity of farmers
and the role of local governments to support the sustainability of
mangrove-based coastal aquaculture.
Kata Kunci : ADPE, mangrove, udang vaname, pengelolaan wilayah pesisir