Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Apoteker Komunitas terhadap Spontaneous Reporting Adverse Drug Reaction di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta
Azizah Hasna Nisrina, Dr. apt. Fivy Kurniawati, M.Sc.; apt. Marlyn Dian Laksitorini, M.Sc., Ph.D
2026 | Skripsi | FARMASI
Adverse Drug reaction (ADR) masih menjadi permasalahan global karena memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan pasien. Perkembangan ilmu dan teknologi di bidang farmasi mendorong peningkatan keamanan obat melalui sistem spontaneous reporting terhadap ADR. Namun, angka pelaporan ADR yang dilakukan oleh apoteker di Indonesia masih tergolong rendah. Padahal, apoteker komunitas sebagai tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam melaporkan ADR. Pengetahuan dan sikap apoteker menjadi aspek penting yang memengaruhi perilaku dalam pelaporan ADR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku apoteker komunitas terhadap spontaneous reporting di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di wilayah DIY selama periode November-Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukukan dengan teknik convenience sampling pada apoteker yang bekerja di apotek wilayah DIY. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan kuesioner melalui Google Form yang disebarkan kepada responden. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan perilaku responden terhadap pelaporan ADR.
Penelitian ini melibatkan 113 responden, dengan karakteristik mayoritas berjenis kelamin perempuan (89,4%), berusia 20-30 tahun (47,8%), memiliki pendidikan terakhir S1 dan Profesi Apoteker (89,4%), bekerja di tempat praktik privat/swasta (99,1%), memiliki pengalaman kerja 1-5 tahun (51,3%), dan bekerja di Kabupaten Sleman (29,2%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar apoteker memiliki tingkat pengetahuan sedang (61,1%) dan seluruh apoteker memiliki kecenderungan sikap positif (100,0%). Selain itu, perilaku apoteker terhadap spontaneous reporting masih tergolong rendah, dengan hanya sebagian responden yang pernah melaporan ADR (33,7%). Secara umum, hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan sikap apoteker yang cukup baik dengan perilaku pelaporan ADR yang masih rendah, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai hambatan seperti kurangnya pendidikan dan keterbatasan waktu sehingga diperlukan upaya peningkatan kompetensi melalui pelatihan serta manajemen waktu untuk mendorong praktik spontaneous reporting yang lebih optimal.
Adverse drug reactions (ADRs) remain a global concern due to their significant impact on patient safety. Advances in pharmaceutical science and technology have encouraged the enhancement of drug safety through spontaneous reporting systems. However, the rate of ADR reporting among pharmacists in Indonesia remains relatively low. Community pharmacists play a strategic role as healthcare professionals in reporting ADR, and their knowledge and attitudes are crucial factors influencing their reporting practice.
The study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices of community pharmacists toward spontaneous reporting in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). This research is an observational study with a descriptive quantitative design using cross-sectional approach conducted in DIY from November to December 2025. Sampling was carried out using a convenience sampling technique among pharmacists working in community pharmacies in DIY region. Data were collected online via a structured questionnaire distributed through Google Form and analyzed descriptively to present the respondents’ knowledge, attitudes, and practices regarding ADR reporting.
This study involved 113 respondents, with the majority were female (89,4%), aged 20-30 years (47,8%), held a Bachelor’s degree and Pharmacist Professional (89,4%), worked in private practice (99,1%), had 1-5 years of work experience (51,3%), and working in Sleman (29,2%). The results of the study showed that most pharmacists had a moderate level of knowledge (61.1%) and all pharmacists had a positive attitude (100.0%). Pharmacists' practices towards spontaneous reporting was still low, with only some respondents having reported ADRs (33.7%). Overall, the results of the study indicate a gap between the relatively high level of knowledge and attitudes among pharmacists and the low level of ADR reporting practices, which may be influenced by various obstacles such as lack of education and time constraints. Therefore, efforts to improve capabilities through training and time management are needed to encourage more optimal spontaneous reporting practices.
Kata Kunci : pengetahuan, sikap, perilaku, spontaneous reporting, apoteker komunitas