Kajian potensi dan pemanfaatan air dalam rangka pengembangan wisata alam di kawasan hutan Budner Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
NISA, Khairun, Prof.Dr.Ir. H. Chafid Fandeli, MS
2005 | Tesis | S2 Ilmu KehutananBerkembangnya kepariwisataan di suatu kawasan akan mengakibatkan kebutuhan sumberdaya air juga semakin meningkat. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan suatu kawasan wisata alam adalah daya dukung air baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan Bunder petak 19 dan 22. Tujuan penelitian ini adalah : a) untuk mengetahui potensi sumber air yang ada di hutan Bunder (kuantitas dan kualitas), b) mengetahui kebutuhan air domestik, wisatawan, pabrik minyak kayu putih, persemaian, dan penangkaran rusa, serta c) mengetahui persepsi wisatawan dan masyarakat mengenai pengembangan kawasan wisata alam hutan Bunder. Penelitian ini dilakukan melalui observasi lapang dan laboratorium. Data yang dikumpulkan adalah data primer yaitu : data kualitas air, kebutuhan air (air yang digunakan penduduk, wisatawan, pabrik minyak kayu putih, persemaian dan penangkaran rusa) serta data persepsi wisatawan dan masyarakat. Data sekunder yang dikumpulkan antara lain : data kuantitas air, curah hujan, jumlah wisatawan dan jumlah penduduk. Analisis kualitas air dilakukan melalui observasi lapang dan laboratorium untuk mengetahui sifat fisika, kimia, dan bakteriologi sampel air yang dibandingkan dengan standar baku mutu air yang telah ditetapkan. Data kebutuhan air diperoleh melalui observasi lapang dan wawancara dengan menggunakan kuisioner, demikian juga dengan data persepsi masyarakat dan wisatawan diperoleh melalui wawancara, sebagai responden masyarakat adalah kepala keluarga (KK) dengan jumlah sampel yang diambil 20 % dari jumlah KK. Wisatawan yang ditetapkan sebagai responden ditentukan melalui accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber air utama untuk keperluan domestik adalah airtanah. Debit airtanah di lokasi penelitian adalah 5 lt/dt, debit mataair Sendang Mole 5 lt/dt dan debit rata-rata terkecil sungai Oyo di musim kemarau adalah 488 lt/dt. Kualitas air sungai Oyo masih memenuhi persyaratan baku mutu air Golongan B, kecuali nilai BOD dan COD yang melebihi jumlah maksimum yang diperbolehkan. Pada sampel airtanah ditemukan bakteri coli yang jumlahnya melebihi batas maksimum yang diperbolehkan menurut standar baku mutu air minum. Rata-rata penggunaan air domestik penduduk adalah 71 lt/org/hr. Jumlah air yang digunakan oleh penduduk Desa Gading selama setahun adalah 160.336 m3/kapita/tahun, jumlah air yang diperlukan wisatawan (toilet dan warung) adalah 92 m3/ tahun dan 107 m3/ tahun, sedangkan untuk keperluan lain yaitu : persemaian 10.512 m3/ tahun, penangkaran rusa 323 m3/tahun dan pabrik minyak kayu putih 2.920 m3/tahun. Berdasarkan perbandingan antara ketersediaan dan pemakaian maka kawasan hutan Bunder masih mempunyai cadangan air sebesar 141.070 m3/tahun. Persepsi masyarakat yang menyatakan setuju terhadap pengembangan kawasan hutan Bunder sebagai objek wisata sebanyak 93,9 % dan persepsi wisatawan sebanyak 98,2 %.
Tourism development in a nature area will result the increasing use of water resources. One of the interested factor for nature tourism area development are quality and quantity of water resources. This research was carried out in Bunder Forest area, square 19th and 22 nd. The objective of this research were : a) to study the potential of water resources that available in Bunder Forest both quality and quantity, b) to examine water required for tourist, ‘kayu putih’ oil factory, nursery, breeding deer area, and domestic used, and c) to know the tourist and society perceptions about the development of Bunder Forest tourism area. In this research, both field and laboratory observations were done. Data collected include : primary data such as water quality, water required (the water that use by resident, tourist, ‘kayu putih’ oil factory, nursery, and breeding deer area) and data of society and tourist perception. The secondary data include quantity data, rainfall, and the amount of resident and tourist. Water quality was analyzed based on field and laboratory observations to examine its chemical and physical characteristics. Water bacteriology was also analyzed to compare with standard of good water quality. Water required data were collected by field observation and interview with respondent. That method was also used in collecting tourist and society perception data, where the head of family (HF) was selected as the respondent. The amount of the sample was 20% from the total number of HF. The tourists that choosed as respondent were selected by using accidental sampling. The research result shows that the primary water source for domestic use is groundwater. Groundwater discharge in observation area is 5 liter/second, the natural water source discharge in Sendang Mole is 5 liter/second, and the smallest average discharge in Oyo River in the dry season is 488 liter/second. Water quality of the Oyo River is in good quality and classified as B level, except for the value of BOD and COD that are higher than that of the tolerable maximum value. For the groundwater, the coli bactery content is higher than that of the tolerable maximum value. The average of domestic water that used by resident is 71 liter/person/day. Water amount used by the residents of Gading Village is 160,336 m3/capita/year. The water amount used by tourist (for toilet and restaurant) is 92 m3/year and 107 m3/year, nursery is 10,512 m3/year, breeding deer area is 323 m3/year and ‘kayu putih’ oil factory is 2,920 m3/year respectively. Based on the ratio of available water supply and its spending, the amount of total water supply is 141,070 m3/year. The 93.9% of resident and 98.2% of tourist agreed for developing Bunder Forest as a tourism area.
Kata Kunci : Hutan Bunder, Wisata Alam, Kuantitas Air, Kualitas Air, Bunder Forest, Nature Tourism, Water Quantity, Water Quality