Laporkan Masalah

Kajian rencana pengelolaan Rusa (Cervus timorensis) sistim terbuka pada ekosistim hutan di Hutan Wanagama I

SULARSO, Ady, Dr.Ir. Djuwantoko, M.Sc

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Rusa Jawa (Cervus timorensis) di hutan Wanagama I, yang hidup dan berkembang secara alami perlu dijaga kelestariannya. Upaya pelestarian ini memerlukan perhatian berbagai pihak. Masyarakat di sekitar hutan Wanagama I mempunyai peran yang penting dalam upaya pelestarian rusa dengan sistim terbuka. Adanya dukungan dan peran serta masyarakat diharapkan dapat memecahkan permasalahan secara bersama-sama dalam upaya pelestarian rusa di hutan Wanagama I, disamping daya dukung habitat bagi pemenuhan kebutuhan rusa itu sendiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi dan berbagai pendapat masyarakat sekitar hutan Wanagama I dan mengetahui daya dukung habitat, yang berkaitan langsung terhadap keberadaan dan upaya pelestarian rusa jawa (Cervus timorensis) di hutan Wanagama I dan melakukan kemungkinan upaya pengelolaan rusa jawa di hutan Wanagama I melalui pengelolaan rusa sistim terbuka. Metode dasar yang dipakai dalam upaya mengetahui persepsi dan pendapat masyarakat sekitar adalah metode deskriptif. Pengumpulan data terdiri dari data primer hasil penelitian lapangan. Data dianalisis dengan cara mengumpulkan dan menyusun data primer ke dalam tabel-tabel dengan menyajikan frekwensi jawaban responden dengan proporsi dan presentase. Selanjutnya data diana lisis secara deskriptif kualitatif dan diinterpretasi. Daya dukung habitat meliputi sebaran dan home range rusa itu sendiri, kelimpahan sumber pakan, dilakukan dengan metode sample track counts dan metode pellet group count, juga adanya sumber air dan pelindung bagi perkembangan rusa. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat di sekitar hutan Wanagama I mempunyai persepsi bahwa Rusa Jawa (Cervus timorensis) adalah satwa yang dilindungi (77,91%), habitatnya di hutan (86,05%), Bagian-bagian rusa seperti kulit, daging, dan ranggahnya dapat dimanfaatkan oleh manusia (82,56%), dan dapat dibudidayakan sebagai hewan ternak (94,19%). Keberadaan Rusa Jawa (Cervus timorensis) di hutan Wanagama I mempunyai dampak positif obyek wisata serta kepentingan pendidikan dan penelitian (90,70%), dampak negatif yaitu rusa merusak tanaman pertanian milik masyarakat (25,58%). Masyarakat mempunyai persepsi bahwa keberadaan rusa jawa perlu dilestarikan (97,67%) dan merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (88,37%). Masyarakat juga berharap dengan adanya upaya pengelolaan rusa dapat memberikan manfaat membuka lapangan kerja, dan utamanya rusa tidak merusak tanaman. Daya dukung habitat sangat memungkinkan bagi perkembangan rusa. Produksi dan produktivitas sumber pakan melimpah, tersedianya sumber air, pelindung dan ruang. Kajian rencana pengelolaan rusa (Cervus timorensis) sistim terbuka pada ekosistim hutan di hutan wanagama I ini sebagai gambaran dan informasi bagi pengelolaan rusa di masa yang akan datang.

Javanese deer (Cervus timorensis) in Wanagama I forest that naturally lives and proliferates should be protected. The preservation actions need care from many parties. Local people around the Wanagama I forest have significant roles in preserving the deer by the open space system. In addition to the supportability of the habitat, the local people’s participation and support are hoped to help solving the problems related to the deer sanctuary in Wanagama I forest. The objectives of this research were to know the local people’s perception and opinion and to know the habitat supportability concerning to the deer preservation. The research method used descriptive method. Primary data taken from the field study results included the respondents’ responses. They were analyzed in descriptivequalitative manner. The habitat supportability included the propagation and home range of deer, the woof resource abundance, the water supply as well as proper places for the deer propagation. The results showed that local people around Wanagama I forest had perceptions that the Javanese Deer (Cervus timorensis) were a protected species (77.91%); the habitat was in forest (86.05%), and the leather, meat and antler were beneficial for human (82.56%). In addition, the deer also could be livestock (94.19%) and the existence in Wanagama I forest had positive impacts for tourism, education and research interests (90.70%). The negative impact was that they broke the farming plants of local people (25.58%). People considered deer as species to be preserved (88.37%) and it was the collective responsibility of people and the government (88.37%). People hoped the preservation would give employment for them. The habitat supportability enabled the deer propagation. Production and productivity of the woof resources was abundant, and the water supply and space were good. The review on open space system management planning of Javanese deer in the ecosystem of Wanagama I forest could be used to give picture and information for the future efforts in preserving the Javanese deer

Kata Kunci : Hutan,Ekosistem,Pengelolaan Rusa,Sistem Terbuka, Local people, Habitat, Open space system


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.