Laporkan Masalah

Studio fenologi pembungaan, penyerbukan dan sistem Breeding Santalum album Linn di Wanagama I Yogyakarta

PRASETYANINGTYAS, Mulyawati, Prof.Dr.Ir. H. Moch Na'iem, M.Agr

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Santalum album (cendana) merupakan salah satu fancy wood yang ditetapkan sebagai jenis langka yang dilindungi, karena populasinya saat ini kian menipis dan dikhawatirkan akan punah. Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan tanaman ini adalah dengan memahami dan mengetahui fenologi pembungaan dan mekanisme penyerbukannya. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk membantu menentukan dalam perencanaan pembangunan hutan terutama dalam rangka penyediaan benih yang berkualitas dengan jumlah yang cukup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) Fenologi pembungaan dan pembuahan beserta kematangan dan longevity organ reproduksi; dan 2) Mekanisme penyerbukan yang berisi informasi mengenai pengamatan agen penyerbuk (pollinator) dan sistem breeding. Penelitian dilakukan terhadap pertanaman cendana di petak 17 Hutan Wanagama I Yogyakarta. Waktu yang diperlukan untuk penelitian 5 bulan, dimulai bulan Juni 2004 sampai Oktober 2004. Untuk mengetahui fenologi pembungaan dan pembuahan obyek di analisa dan di foto selanjutnya ditetapkan menjadi tahapantahapan perkembangan bunga. Agen penyerbuk diketahui denga n mengidentifikasi agen biotik yang berinteraksi dengan bunga. Sistem breeding diketahui melalui analisa isoenzim dengan bahan jaringan embrio. Cendana untuk menyelesaikan satu periode pembungaan, mulai dari inisiasi bunga hingga masaknya buah dan biji dibutuhkan waktu sekitar 107 hari. Inisiasi dimulai bulan Juni dan buah masak sekitar bulan September. Puncak pembungaan terjadi pada bulan Juli dengan prosentase pohon yang berbunga 18,15 %. Anthesis terjadi sekitar pukul 8–9 pagi atau sore hari pukul 3–5. Bunga cendana digolongkan ke dalam tipe bunga protandri dichogamy. Organ reproduksi jantan masak sebelum terjadinya anthesis, sedangkan putik reseptive 12 – 24 jam setelah anthesis. Serangga yang melakukan interaksi dengan bunga cendana, yaitu kaper dan kupu-kupu (Ordo Lepidoptera), lebah madu dan semut (Ordo Hymenoptera) serta lalat (Ordo Diptera). Kupu-kupu, kaper dan lebah madu berperan sebagai pollinator, sedangkan lalat dan semut hanya mengunjungi bunga. Namun karena keberadaannya dalam jumlah yang terbatas dan kontak antar pohon hanya dilakukan pada pohon yang letaknya berdekatan, maka kupu-kupu, kaper dan lebah madu kurang efektif dalam mendukung proses penyerbukan. Cendana memiliki sistem breeding yang cenderung selfing. Hasil analisa isozim menunjukkan rendahnya nilai heterosigositas harapan (He 0.164) dan tingginya nilai F-index (F-is 0.438) yang berarti terjadi peningkatan homozigositas pada cendana karena tingginya tingkat inbreeding antar individu berkerabat.

Santalum album (sandalwood) is one of the fancy woods and at present the species has been protected as it is becoming an endangered species. To increase the number of species, the study of the flowering phenology and pollination mechanism is needed to be done. Because, the information of the study is important to determine the decision on forest deve lopment planning, particularly to provide sufficient high quality seed. The objective of the study are to obtain information on: 1) Flowering and fruiting phenology; and 2) Pollination mechanism, i.e information on pollinator agent and breeding system. The study was carried out in sandalwood plantation, located in block 17, Wanagama Forest Research I, Yogyakarta. The duration of the study was 5 months, started from June to October 2004. To obtain the information on flowering and fruiting phenology, the object was photographed before determining the steps of flower development and analyzed. Pollinator agent was observed by identifying biotic agent associated with the flowers. Breeding system was observed using isoenzym approach, the material used for analyze was embryo tissues. To complete one flowering period, from flower initiation to fruit and seed maturation, sandalwood needs 107 days. The initiation is started on June and maturation of fruit will be on September. The peak of flowering season is in July, with 18,15 % of trees with flower. Anthesis occurs at about 8 to 9 in the morning, or 3 to 5 in the afternoon. Sandalwood flower is categorized in protandri dichogamy flower type. The male reproduction organ is receptive before the anthesis, while the stigma is receptive in 12 – 24 hours after anthesis. There were 5 taxa of insects interacted with sandalwood flower, that were moths and butterflies (Ordo Lepidoptera), honey bees and ants (Ordo Hymenoptera), and flies (Ordo Diptera). Moths, butterflies and honey bees were a potential pollinator. However, since the number is limited and the contact among trees could only be done between nearby trees, this insect is less effective for supporting the pollination process. Sandalwood was tent to have a selfing breeding type. The isoenzym analysis result had shown F-index 0.438 and low expected heterozigosity value (He 0.164), means that there is an increasing homozigosity on sandalwood because of the height level of inbreeding in the surveyed population.

Kata Kunci : Tanaman Cendana,Fenologi Pembangunan dan Penyerbukan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.