Makna dan Proses Interpretasi Tindak Tutur Ilokusi Direktif Tidak Langsung dalam Serial Ohsama Sentai King-Ohger
Ferdian Yosanata Haqiki, Dr. Mulyadi, M.A.
2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Meminta lawan tutur untuk melakukan sesuatu secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari memiliki makna lebih sopan daripada memintanya secara langsung. Dalam kajian pragmatik, tuturan ini disebut dengan tindak tutur ilokusi direktif tidak langsung. Strategi tindak tutur tidak langsung diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan fungsi utamanya, misalnya meminta orang lain melakukan sesuatu menggunakan kalimat deklaratif atau kalimat interogatif. Kesantunan merupakan motivasi utama dalam penggunaan tindak tutur tidak langsung, khususnya dalam tindak tutur direktif.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi non-partisipan. Data diambil dari tuturan tindak tutur ilokusi direktif tidak langsung oleh enam tokoh yang terdiri dari Gira, Yanma, Hymeno, Kaguragi, Rita, dan Jeramie dalam serial Ohsama Sentai King-Ohger episode 1-26. Teori yang digunakan untuk menganalisis data terdapat tiga teori. Pertama, teori tindak tutur oleh Searle untuk mengidentifikasi jenis tindak tutur ilokusi direktif tidak langsung. Kedua, teori latar belakang konteks melalui konsep SPEAKING oleh Hymes untuk menganalisis konteks percakapan. Ketiga, teori relevansi oleh Dan Sperber dan Deirdre Wilson untuk menjelaskan proses interpretasi.
Berdasarkan analisis, ditemukan 6 jenis tuturan, yang terdiri dari memerintah (3), meminta (2), mengajak (3), mendesak (3), menganjurkan (2), dan melarang (2). Konsep SPEAKING oleh Hymes dapat menjelaskan makna berdasarkan konteks percakapan untuk membantu proses identifikasi tindak tutur ilokusi direktif tidak langsung. Kemudian, dapat disimpulkan bahwa lawan tutur mampu menginterpretasi maksud dari tuturan yang memuat tindak tutur ilokusi direktif tidak langsung.
Requesting an interlocutor to perform an action indirectly in everyday life conveys a more polite meaning than requesting it directly. In pragmatic studies, such utterances are referred to as indirect directive illocutionary speech acts. The strategy of indirect speech acts are expressed through sentence types that do not correspond to their primary function, for instance, requesting someone to do something by using declarative or interrogative sentences. Politeness serves as the main motivation in the use of indirect speech acts, particularly in directive speech acts.
This research employs a qualitative descriptive method with a non-participant observation technique. The data were collected from indirect directive illocutionary speech acts produced by six characters consisting of Gira, Yanma, Hymeno, Kaguragi, Rita, and Jeramie in the television series Ohsama Sentai King-Ohger, episodes 1–26. Three theoretical frameworks were applied to analyze the data. First, Searle’s speech act theory was used to identify the types of indirect directive illocutionary speech acts. Second, Hymes’s concept of SPEAKING was employed to examine the conversational context. Third, the relevance theory proposed by Dan Sperber and Deirdre Wilson was utilized to determine the communicative outcomes.
Based on the analysis, six types of utterances were identified, consisting of commanding (3), requesting (2), inviting (3), urging (3), recommending (2), and prohibiting (2). Hymes’ SPEAKING framework is able to explain meaning based on the conversational context, thereby assisting the process of identifying indirect directive illocutionary speech acts. It can therefore be concluded that the interlocutors are capable of interpreting the intended meaning of utterances that contain indirect directive illocutionary speech acts.
Kata Kunci : pragmatik, tindak tutur ilokusi, tindak tutur direktif tidak langsung, konteks, relevansi