EKSISTENSI SLANG DI KALANGAN PEMUDA KABUPATEN PONOROGO: ANALISIS BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI
Muhammad Krisna Pangestu Wardana, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum.
2026 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA
Penelitian ini mengkaji fenomena slang
di kalangan pemuda Kabupaten Ponorogo sebagai wujud dinamika kebahasaan yang
hidup dan terstruktur. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
pola dan bentuk linguistik slang, serta menjelaskan makna dan fungsi sosialnya
dalam interaksi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi
partisipatif, dan observasi nonpartisipasif. Analisis data dilakukan
menggunakan metode padan untuk aspek makna dan metode agih untuk membedah
struktur pembentukan kata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
bentuk slang yang mendominasi di Kabupaten Ponorogo adalah teknik walikan
atau metatesis yang mengikuti kaidah fonologis sistematis, khususnya pola KVK
untuk kata dua suku kata seperti siji menjadi jis ‘satu’ dan pola
KVKVK untuk tiga suku kata. Selain metatesis, ditemukan pula penambahan dan
substitusi fonem /h/, perubahan vokal, akronim, pemendekan kata (clipping),
serta penggunaan onomatope.
Secara sosiolinguistik, penggunaan slang ini memiliki fungsi vital sebagai penanda identitas kelompok (in-group) yang membedakannya dari orang luar, serta sebagai sarana membangun keakraban (intimacy) yang meruntuhkan sekat formalitas bahasa Jawa baku. Selain itu, slang berfungsi untuk efisiensi komunikasi serta sebagai argot atau sandi rahasia seperti kata silup untuk ‘polisi’ guna melindungi privasi komunitas dari otoritas atau pihak luar. Fenomena ini menegaskan bahwa slang Ponorogo bukan sekadar penyimpangan bahasa, melainkan kreativitas linguistik yang disepakati secara kolektif.
This research examines slang among youths in Ponorogo
Regency as a manifestation of dynamic and structured linguistic phenomena. The
primary objective of this study is to describe the linguistic patterns and
forms of slang, as well as to explain its meaning and social functions within
community interactions. This study employs a qualitative approach with data
collection methods involving in-depth interviews, participant observation, and
non-participant observation. Data analysis utilizes the identity method (metode
padan) to analyze meaning and the distributional method (metode agih)
to dissect the structure of word formation.
The results indicate that the dominant slang form in
Ponorogo Regency is the walikan technique or metathesis, which adheres
to systematic phonological rules. Specifically, this includes the CVC pattern
for disyllabic words siji becoming jis ‘one’ and the CVCVC
pattern for trisyllabic words. In addition to metathesis were identified including
phoneme addition and substitution of /h/, vowel shifts, acronyms, clipping, and
onomatopoeia.
From a sociolinguistic perspective, this slang serves a vital function as a marker of group identity (in-group), distinguishing its users from outsiders. It also serves as a means to establish intimacy, breaking down the formality barriers of standard Javanese. Furthermore, the slang functions to enhance communication efficiency and acts as an argot or secret code silup for ‘police’ to protect community privacy from authorities or external parties. This phenomenon confirms that Ponorogo slang is not merely a linguistic deviation, but rather a form of collectively agreed-upon linguistic creativity.
Kata Kunci : Sosiolinguistik, Slang, Walikan, Kabupaten Ponorogo