Optimasi Formula Sediaan Serum Propolis Sebagai Anti-aging dan Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode Uji ABTS
Fani Nur Maftukhah, Dr. apt. Nindya Kusumorini, S. Farm ; apt. Farida Nur Aziza, S. Farm., MGMP
2026 | Skripsi | FARMASI
Paparan sinar UV berlebih dapat mempercepat penuaan kulit melalui pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) yang merusak kolagen dan elastin. Propolis diketahui memiliki aktivitas antioksidan kuat yang mampu menghambat kerusakan kulit akibat ROS. Propolis dapat diformulasikan dalam bentuk serum yang ringan, cepat diserap, dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan komposisi xanthan gum sebagai gelling agent dan gliserin sebagai humektan untuk menghasilkan formula serum kombinasi propolis dengan karakteristik fisik dan stabilitas yang baik.
Optimasi dilakukan menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD) dengan software Design Expert. Evaluasi formula meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta uji stabilitas cycling test. Aktivitas antioksidan ekstrak propolis diuji dengan metode ( 2,2?-Azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid) ABTS untuk menentukan nilai IC 50.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak propolis memiliki aktivitas antioksidan yang relatif lemah dengan nilai IC 50 sebesar 7.035,25 ppm. Formula optimum diperoleh pada kombinasi 0,506% xanthan gum dan 9,9% gliserin, yang menghasilkan karakteristik fisik memenuhi persyaratan serta menunjukkan stabilitas fisik yang baik selama pengujian cycling test. Formula serum ekstrak propolis yang diperoleh berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan kosmetik berbasis bahan alam dengan karakteristik fisik yang stabil.
Kata Kunci : Serum, Anti-aging, Propolis, Optimasi, Aktivitas Antioksidan