"Perkembangan Awal" Bidang Keteknikan di ITB dan UGM, 1920an-1990an
Sahasra Sekar Ardiningrum, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A.
2026 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Insinyur bukan hanya sekadar profesi biasa, melainkan juga harapan besar
bagi suatu negara untuk mendukung kemajuan di berbagai bidang yang dapat
menyelamatkan negara dari ketergantungan terhadap negara lain pada
sektor-sektor yang bersifat industrial. Di Hindia Belanda, insinyur-insinyur
yang dipekerjakan pada awalnya hanya insinyur yang berasal dari Eropa. Hal itu
kemudian berubah semenjak krisis tenaga teknisi pasca Perang Dunia I yang
menewaskan ratusan teknisi berdarah Eropa. Pemerintah Hindia Belanda kemudian
memutuskan untuk mencetak insinyur-insinyur baru yang berasal dari orang-orang
Bumiputra. Mereka kemudian mendirikan Sekolah Tinggi Teknik dengan harapan
bahwa sekolah tinggi tersebut dapat menghasilkan para insinyur hebat yang dapat
mendukung keberlangsungan hidup orang banyak di wilayah Hindia Belanda.
Pendidikan keteknikan yang berasal dari Eropa berkembang pesat di wilayah
Hindia Belanda, sampai wilayah jajahan tersebut kemudian merdeka, pendidikan
keteknikan masih terus eksis dan banyak dibutuhkan untuk diberlakukannya pembangunan
besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan dalam menulis
penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, dengan menggunakan sumber
primer berupa arsip universitas, surat kabar, dan laporan rektor, serta
penggunaan sumber sekunder berupa buku-buku dan artikel jurnal.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa pemerintah
kolonial Belanda pada akhirnya menerapkan politik balas budi atau Politik Etis,
salah satu kebijakannya adalah terbukanya akses pendidikan tinggi bagi
masyarakat Bumiputra. Pemerintah kolonial memutuskan untuk mendirikan Technische
Hoogeschool te Bandoeng yang menjadi cikal bakal Institut Teknologi
Bandung. Institut Teknologi Bandung berperan sebagai pionir atas berkembangnya
pendidikan pada bidang keteknikan di wilayah Indonesia, hingga pendidikan
bidang tersebut bisa sampai ke Universitas Gadjah Mada, universitas nasional
pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Pada penelitian ini, dijelaskan lebih
lanjut tentang peran insinyur-insinyur yang lahir dari kedua lembaga tersebut,
para insinyur yang telah menyumbangkan peran mereka pada masa pembangunan di
awal kemerdekaan Indonesia hingga akhir masa kepemimpinan Soeharto.
Engineer is not merely an ordinary profession, but also a source of
great hope for a nation to drive progress in various fields, thereby freeing
the country from dependence on other nations in industrial sectors. In the
Dutch East Indies, the engineers initially hired were exclusively from Europe.
This changed following the post-World War I technical workforce crisis, which
claimed the lives of hundreds of European engineers. The Dutch East Indies
government subsequently decided to train new engineers from the indigenous
population. They subsequently established the Higher Technical School with the
hope that this institution would produce outstanding engineers capable of
supporting the livelihoods of many people in the Dutch East Indies. Engineering
education of European origin flourished in the Dutch East Indies; even after
the colony gained independence, engineering education remained vital and was in
high demand to facilitate large-scale development projects across various
regions of Indonesia.
The research method used in this study is the
historical research method, utilizing primary sources such as university
archives, newspapers, and rectors’ reports, as well as secondary sources
including books and journal articles.
This study provides evidence that the Dutch colonial
government eventually implemented the policy of reciprocity or Ethical Policy,
one of whose measures was the opening of access to higher education for the
indigenous population. The colonial government decided to establish the
Technische Hoogeschool te Bandoeng, which became the precursor to the Bandung
Institute of Technology. The Bandung Institute of Technology served as a
pioneer in the development of engineering education in Indonesia, paving the way
for such education to reach Gadjah Mada University, Indonesia’s first national
university. This study further explores the role of engineers who graduated
from these two institutions, engineers who contributed significantly during the
nation-building period from the early years of Indonesia’s independence through
the end of Soeharto’s regime.
Kata Kunci : Pendidikan Tinggi, Bidang Keteknikan, Insinyur, ITB, UGM.