Praktek “Inhal” Pratikum Patologi Anatomi II dan Pengaruhnya terhadap Derajat Kecemasan Mahasiswa FK UGM Angkatan 1995/1996
Petrus J. Hasibuan, Dr. Mutrarsi S.K.F.,DTM & H, DAJ
1998 | Skripsi | S1 KEDOKTERANFakultas Kedokteran UGM memiliki kegiatan-kegiatan akademik yang menyita sebagian besar waktu para mahasiswanya. Keadaan seperti itu dapat menimbulkan stressor-stressor yang bermuara pada kecemasan. Kecemasan sendiri adalah suatu keadaan emosional subyektif yang tidak menyenangkan, berupa ketakutan atau kekhawatiran mengenai masa depan, baik tanpa adanya ancaman atau bahaya, atau faktor-faktor yang tidak sesuai dengan reaksi yang terjadi. Tingkat kecemasan bagi mahasiswa dipengaruhi oleh penting tidaknya suatu kegiatan bagi kelulusannya. Salah satu kegiatan yang cukup penting bagi kelulusan dan diasumsikan dapat meningkatkan kecemasan adalah praktek "inhal" praktikum. Penelitian dilakukan secara non- eksperimental cross sectional survey selama bulan Oktober 1997. Sampel diambil dari mahasiswa semester V FKUGM angkatan 1995/1996 yang mengambil mata kuliah Patologi Anatomi II. Instrumen yang digunakan adalah Anxiety Analog Scale. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kecemasan yaitu genetik, stressor psikososial, ego, pengalaman dan organobiologik dikendalikan. Jumlah populasi 139 orang, 109 bersedia menjadi sampel. Akhirnya setelah dikurangi dengan faktor- faktor yang dikendalikan, jumlah yang digunakan dalam penelitian ini adalah 71 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak ada peningkatan derajat kecemasan yang bermakna (X4 hasil = 6,29, X2 tabel = 7,815, p =0,10). Jumlah sampel yang tidak mencapai jumlah ideal (103 orang) tingkat kesalahan dalam menjawab (sekitar 5%), ego yang cukup stabil, genetik yang tahan terhadap stressor, dan adaptasi yang baik mempengaruhi hasil ini. Walaupun wanita lebih mudah merasa cemas daripada pria tapi dalam penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (X hasil = 0,00036, X4 tabel = 3,841, p = 0,95). Mungkin karena kecemasan wanita lebih ditujukan pada hal-hal yang bersifat fisik. Mahasiswa pendatang akan lebih mudah merasa cemas bila tidak dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan. Tidak adanya peningkatan kecemasan yang bermakna (X2 hasil = 5,12, X2 tabel = 5,991, = 0,10) mencerminkan adaptasi yang baik dari mahasiswa pendatang. Bagi para mahasiswa semester V, dengan hasil ini diharapkan kecemasan tidak menjadi halangan untuk mampu meningkatkan prestasi belajar di mata kuliah tersebut. Disarankan juga agar dilakukan penelitian yang lebih menyeluruh terhadap stressor-stressor yang ada di fakultas kedokteran dengan pendekatan yang berbeda.
Kata Kunci : Kecemasan, Praktek “Inhal”, Mahasiswa, FK UGM