Pola Pengobatan dan Luaran Klinis pada Pasien Penyakit Parkinson di Instalasi Rawat Jalan RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo
Nova Gusvita, Dr. apt. Woro Harjaningsih, Sp. FRS.
2026 | Skripsi | FARMASI
Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang ditandai gejala motorik dan gejala non-motorik. Variasi karakteristik dan pengobatan pada pasien penyakit Parkinson dapat memberikan luaran klinis yang berbeda-beda pada tiap pasien. Seiring meningkatnya prevalensi penyakit Parkinson di Indonesia, data yang lebih lengkap terkait karakteristik, pola pengobatan, dan luaran klinis sangat diperlukan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, pola pengobatan, dan luaran klinis pada pasien penyakit Parkinson di Instalasi Rawat Jalan RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif, yaitu mengambil data rekam medis pasien penyakit Parkinson rawat jalan selama periode 2023-2025 di RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo. Data yang diambil yaitu karakteristik, pola pengobatan, dan luaran klinis pasien. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive, yaitu mengambil sampel pasien yang memenuhi kriteria penelitian secara berurutan sampai memenuhi jumlah sampel. Jumlah pasien yang diperoleh pada penelitian ini, yaitu 98 pasien. Data dianalisis secara deskriptif untuk dihitung jumlah dan persentasenya kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
Berdasarkan hasil penelitian, penyakit Parkinson didominasi oleh jenis kelamin laki-laki (58,16%) dan individu lanjut usia (75,59%). Tremor (72,45%) menjadi gejala motorik yang paling banyak dirasakan, sedangkan nyeri (42,86%) menjadi gejala non-motorik yang paling banyak dialami. Komorbid yang paling banyak dialami adalah hipertensi (26,53%). Pola penggunaan obat anti-Parkinson yang paling banyak diresepkan adalah kombinasi levodopa/benserazid + triheksifenidil (47,96%). Sebagian besar pasien (79,59%) tidak mengalami perubahan obat anti-Parkinson. Perubahan pengobatan anti-Parkinson yang paling banyak terjadi adalah penambahan triheksifenidil pada anti-Parkinson lain (26,67%). Penggunaan obat selain obat anti-Parkinson yang paling banyak digunakan adalah vitamin (30,66%). Mayoritas pasien memiliki luaran klinis gejala motorik terkendali (64,29%) dan gejala non-motorik terkendali (46,94%).
Parkinson’s disease is a neurodegenerative disorder that is characterized by motor symptoms and non-motor symptoms. Variations in patient characteristics and treatment in Parkinson's disease may lead to different clinical outcomes for each patient. With the increasing prevalence of Parkinson's disease in Indonesia, more comprehensive data on patient characteristics, treatment patterns, and clinical outcomes are greatly needed. Therefore, this study aims to determine the characteristics, treatment patterns, and clinical outcomes of Parkinson’s disease patients at the Outpatient Clinic of dr. Tjitrowardojo Regional General Hospital in Purworejo.
This study used a descriptive research design with retrospective data collection, utilizing medical records of outpatients with Parkinson's disease from 2023-2025 at dr. Tjitrowardojo Regional General Hospital in Purworejo. Sampling was conducted consecutively, including all eligible patients in sequence until the required sample size was reached. The number of patients used in this study was 98 patients. Data were analyzed descriptively to calculate the number and percentage, then presented in tabular form.
Based on the results of the study, patients with Parkinson’s disease were dominated by males (58,16%) and elderly (75,59%). Tremor (72,45%) was the most frequently reported motor symptom, while pain (42,86%) was the most frequently non-motor symptom. The most common observed comorbidity was hypertension (26,53%). The most commonly prescribed anti-Parkinson drug was the combination of levodopa/benserazide + trihexyphenidyl (51,41%). Most patients (79,59%) did not experience any changes in their treatment. The most commonly observed change in anti-Parkinsonian drugs was the addition of trihexyphenidyl to another anti-Parkinsonian (26,67%). The most common medications used aside from anti-Parkinsonian drugs were vitamins (30,66%). The majority of patients showed controlled clinical outcomes in motor symptoms (64,29%) and non-motor symptoms (46,94%).
Kata Kunci : karakteristik, pola pengobatan, luaran klinis, penyakit Parkinson