Prevalensi Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Perajin Wayang Kulit di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta
Yonanda Isnaini Saraswati, Dr. dr. Cempaka Thursina Srie Setyaningrum, Sp.S(K); dr. Indra Sari Kusuma Harahap, Ph.D.; dr. Abdul Gofir, Sp.S (K).
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang: Wayang kulit adalah warisan budaya
yang telah diakui UNESCO dan hingga kini masih diproduksi secara manual dengan
keterampilan tangan yang intensif. Dalam proses pembuatannya, khususnya tahap natah,
perajin bekerja dengan gerakan repetitif fleksi– ekstensi pergelangan
tangan selama durasi kerja yang panjang. Kondisi ini secara biomekanis
berpotensi meningkatkan tekanan pada nervus medianus dan menjadi faktor
risiko terjadinya carpal tunenl syndrome (CTS). Tujuan: Mengetahui
prevalensi carpal tunnel syndrome (CTS) pada perajin wayang kulit di
Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta. Metode: Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang dilakukan di Desa Wukirsari,
Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 45 responden yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Data
primer dikumpulkan melalui pengisian lembar anamnesis, Kuesioner Sindrom
Terowongan Karpal Boston (KSTK-B), serta pemeriksaan fisik CTS menggunakan uji Tinel,
Phalen, dan reverse Phalen. Data kemudian dianalisis secara
univariat untuk menggambarkan prevalensi dan karakteristik subjek, serta
bivariat secara eksploratif menggunakan uji Chi-square untuk melihat proporsi
pada setiap kelompok dengan kejadian CTS. Hasil: CTS ditemukan
pada 24 dari 45 responden (53,3%). Secara deskriptif, CTS lebih sering dijumpai
pada kelompok usia 46–55 tahun (22,2?ri responden), laki-laki (28,9%),
perajin dengan durasi kerja >6 jam per hari (46,7%), serta masa kerja >5
tahun (46,7%). Berdasarkan jenis
pekerjaan, CTS paling banyak ditemukan pada perajin kombinasi tatah dan
sungging (26,7%). Kesimpulan: Prevalensi carpal tunnel
syndrome (CTS) pada perajin wayang kulit di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul,
D.I. Yogyakarta adalah sebesar 53,3%
Background: Wayang
kulit is a traditional
Indonesian shadow puppet art recognized by UNESCO as an Intangible Cultural
Heritage. Its production remains largely manual and involves intensive hand
skills. During the manufacturing process, particularly in the natah
(carving) stage, artisans perform repetitive wrist flexion–extension movements
over prolonged working hours. Biomechanically, such repetitive activities may
increase pressure on the median nerve and predispose workers to carpal
tunnel syndrome (CTS). Objective: To
determine the prevalence of carpal tunnel syndrome (CTS) among wayang
kulit artisans in Wukirsari Village, Imogiri, Bantul, Special Region of
Yogyakarta. Methods: This study employed a descriptive–analytic
design and was conducted in Wukirsari Village, Imogiri, Bantul, Special Region
of Yogyakarta. A total of 45 respondents who met the inclusion and exclusion
criteria were recruited. Primary data were collected through completion history
taking sheets, Boston Carpal tunnel syndrome Questionnaire (BCTQ), and
physical examinations using Tinel’s test, Phalen’s test, and reverse Phalen’s
test. Data were analyzed univariately to describe prevalence and subject
characteristics, and bivariately in an exploratory manner using the Chi-square
test. Results: Carpal tunnel syndrome (CTS) was identified
in 24 of 45 respondents (53.3%). Descriptively, CTS was more frequently
observed among respondents aged 46–55 years (22.2% of all respondents) and
>55 years (15.6%), males (28.9%), those working >6 hours per day (46.7%),
and those with a work duration of >5 years (46.7%). Based on job category,
CTS was most commonly found among artisans performing both carving (tatah)
and painting (sungging) activities (26.7%).
Kata Kunci : Prevalensi carpal tunnel syndrome, Kuesioner Sindroma Terowongan Karpal Boston (KSTK-B), Perajin Wayang Kulit, Desa Wukirsari