Keengganan Korea Selatan untuk Bekerja Sama dan Mengintegrasikan Sistem Pertahanan Rudal dengan Amerika Serikat
Muhammad Irsyad Abrar, Dr. Rochdi Mohan Nazala, MSA., M.Litt.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan InternasionalProliferasi rudal balistik Korea Utara mendorong Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengembangkan sistem pertahanan rudal. Washington menawarkan kedua sekutunya pembangunan pertahanan rudal teater yang menekankan kerja sama dan integrasi, tetapi Seoul memilih membangun pertahanan rudal secara mandiri sehingga Semenanjung Korea memiliki dua sistem pertahanan yang terpisah. Kebijakan ini bertahan di tengah dinamika proliferasi kemampuan rudal balistik Korea Utara serta peningkatan anggaran pertahanan, khususnya modernisasi, pergantian kepemimpinan, dan perubahan sentimen publik di Korea Selatan. Berdasarkan pendekatan realis neoklasik jenis pertama dan budaya strategis generasi pertama, fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh tekanan dan insentif sistem internasional yang dihadapi Seoul, tetapi juga oleh budaya strategis yang dimilikinya. Ancaman rudal balistik Korea Utara mendorong Korea Selatan untuk mengembangkan sistem pertahanan rudal, tetapi Seoul tidak memanfaatkan insentif pertahanan kawasan yang ditawarkan Washington karena pola pikir dan kebiasaan berperilaku yang menekankan kemandirian pertahanan nasional. Budaya strategis Korea Selatan sendiri merupakan produk geopolitik terkait ancaman Korea Utara dan pengalaman sejarah yang mengakar mengenai keraguan atas komitmen AS.
The proliferation of North Korea’s ballistic missiles has prompted the United States, Japan, and South Korea to develop missile defense systems. Washington offered its two allies the establishment of a theater missile defense emphasizing cooperation and integration, yet Seoul opted to build its missile defense independently, resulting in two separate systems on the Korean Peninsula. This policy has endured amidst the dynamics of North Korea’s expanding ballistic missile capabilities and the increase in defense expenditure, particularly modernization, leadership changes, and shifts in public sentiment in South Korea. Drawing upon the first type of neoclassical realist approach and the first generation of strategic culture, this phenomenon is influenced not only by the pressures and incentives of the international system faced by Seoul but also by its own strategic culture. The threat of North Korea’s ballistic missiles has driven South Korea to develop missile defense systems, but Seoul has not utilized Washington’s regional defense incentives due to patterns of thought and behavior emphasizing national defense autonomy. South Korea’s strategic culture itself is a product of geopolitics related to the North Korean threat and deeply rooted historical experiences concerning doubts over the commitment of the US.
Kata Kunci : Amerika Serikat, Korea Selatan, pertahanan rudal, realisme neoklasik, budaya strategis