Laporkan Masalah

Perlawanan Sehari-hari sebagai Strategi Resiliensi Perempuan Madura Sambas

Lana Savira Kusuma Dewi, Dr. Wenty Marina Minza, S.Psi., M.A.

2026 | Tesis | S2 Psikologi

Studi ini mengeksplorasi dinamika resiliensi perempuan Madura Sambas yang hidup dalam bayang-bayang trauma kolektif dan stigma pascakonflik. Studi ini melampaui pandangan resiliensi sebagai adaptasi pasif, dan merumuskannya sebagai resiliensi berbasis perlawanan sehari-hariMelalui studi etnografi, temuan menunjukkan bahwa partisipan merespon trauma kolektif serta marginalisasi struktural dalam tiga arena: (1) arena domestik melalui negosiasi kepatuhan transaksional, (2) arena publik melalui kreativitas sosial memanipulasi ruang formal, dan (3) arena kultural lewat ritual pertahanan kolektif. Dinamika sirkular ini berfungsi mereduksi kesenjangan psikologis dan membentuk pemaknaan baru (meanings made). Penelitian ini menyimpulkan bahwa serangkaian perlawanan sehari-hari berhasil memulihkan rasa kendali yang bermuara pada terbentuknya agensi terbatas (bounded agency). Wujud resiliensi ini menegaskan bahwa partisipan mampu mempertahankan kesejahteraan mental dan otonomi subjektif, meskipun hidup dalam kerentanan dan batasan struktural yang berkelanjutan.

This study explores the resilience dynamics of Madura Sambas women living in the shadow of collective trauma and post-conflict stigma. This study transcends the view of resilience as passive adaptation, reconceptualizing it as resilience based on everyday resistance. Through an ethnographic study, the findings demonstrate that participants respond to collective trauma and structural marginalization in three arenas: (1) the domestic arena through the negotiation of transactional compliance, (2) the public arena through social creativity in manipulating formal spaces, and (3) the cultural arena via collective defense rituals. These circular dynamics serve to reduce psychological discrepancies and foster meanings made. This study concludes that this series of everyday resistance successfully facilitates the restoration of sense of control, culminating in the formation of bounded agency. This form of resilience affirms the participants' capacity to maintain mental well-being and subjective autonomy, despite living within ongoing vulnerability and structural constraints.

Kata Kunci : Resiliensi, Perlawanan Sehari-hari, Perempuan Madura, Pascakonflik, Agensi Terbatas

  1. S2-2026-527398-abstract.pdf  
  2. S2-2026-527398-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-527398-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-527398-title.pdf