Laporkan Masalah

Kondisi sumberdaya daerah untuk realisasi kemandirian dan otonomi daerah seluruh kabupaten/kota di propinsi D.I Yogyakarta

Wibowo Puthut Lheksono, Drs. Sujali, M.S.

2005 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Otonomi daerah telah diberlakukan di kabupaten/kota sebagai penyerahan kewenangan untuk mengelola urusan rumah tangganya sendiri. Kewenangan yang dimiliki ini berarti lebih mengutamakan peran pemerintah daerah sebagai pengelola pembangunan, dan masyarakat secara langsung sebagai pelaku pembangunan Pembangunan daerah sangat memerlukan perencanaan yang matang dalam memanfaatkan potensi daerah yang dimiliki. Penelitian yang berjudul "Kondisi Sumberdaya Daerah Untuk Realisasi Kemandirian dan Otonomi Daerah Seluruh Kabupaten/Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta" ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sumberdaya daerah di wilayah kabupaten/kota se-Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mengetahui tingkat kemandirian sebagai daerah otonom seluruh kabupaten/kota, dan menemukan dan merekomendasi pengembangan wilayah dalam otonomi daerah di kabupaten/ kota se-Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode analisis data sekunder. Teknik analisis yang digunakan yaitu skoring dan scalling, dengan unit analisis kabupaten/kota. Pengukuran sumberdaya daerah, diukur dengan indikator sumberdaya fisik, sumberdaya biotik, sumberdaya budaya, dan sumberdaya ekonomi. Total skor dari seluruh indikator di tiap kabupaten/kota merupakan skor sumberdaya daerah itu sendiri. Asumsi yang dipakai yaitu makin tinggi sumberdaya daerah, makin tinggi pula tingkat kemandirian daerahnya. Dari hasil analisis, didapatkan hasil bahwa Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman memiliki sumberdaya daerah yang tinggi, sehingga memiliki pula Tingkat Kemandirian tinggi. Ketiga kabupaten lain, yaitu Kulonprogo, Bantul, dan Gunungkidul memiliki Tingkat Kemandirian sedang. Sumberdaya daerah yang tinggi di Kota Yogyakarta dipengaruhi oleh fungsi daerah tersebut sebagai kota utama pembangunan daerah di sekitarnya sebagai dan ibu kota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga meskipun daerah ini tidak memiliki sumberdaya alam, tetapi perkembangan ekonomi-nya cukup tinggi. Sedangkan mata pencaharian daerah-daerah di sekitarnya masih cukup didominasi bidang pertanian. Mengenali sumberdaya daerah sangat penting dalam perencanaan daerah. Pembangunan daerah secara terintegrasi berdasarkan potensi yang dimiliki kabupaten/kota dalam satu propinsi sangat diharapkan untuk menghindari pemusatan pembangunan besar-besaran hanya di dalam kota utama saja. Karena meskipun dalam batas koridor wilayah otonom, jaringan pembangunan daerah masih tetap diperlukan. Menaikkan struktur perekonomian daerah bukan dengan jalan menaikkan pajak daerah secara besar-besaran. Tetapi mengembangkan potensi sektor-sektor ekonomi di tiap daerah.

-

Kata Kunci : otonomi daerah, sumberdaya, kemandirian daerah

  1. S1-2005-101138-abstract.pdf  
  2. S1-2005-101138-bibliography.pdf  
  3. S1-2005-101138-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2005-101138-title.pdf