Laporkan Masalah

Studi Komparatif Kelayakan Usaha Tani Bawang Merah Berdasarkan Generasi Petani di Kabupaten Nganjuk

Juliawan, Ir. Any Suryantini, M.M., Ph.D. ; Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc.

2026 | Tesis | S2 Magister Manj.Agribisnis

Usaha tani bawang merah di Kabupaten Nganjuk tengah mengalami regenerasi petani, partisipasi petani generasi baby boomer, X, dan Y adalah yang paling dominan dalam hal produksi bawang merah. Terdapat perbedaan karakteristik pendidikan formal dan pengalaman usaha tani pada setiap generasi petani. Generasi petani yang lebih muda memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi namun pengalaman usaha taninya paling sedikit, sebaliknya generasi petani yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih baik namun pendidikan formal nya lebih rendah. Perbedaan karaktersitik inilah yang menyebabkan adanya perbedaan pola usaha tani sehingga kelayakan usaha tani pada setiap generasi petani menjadi berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, dan keuntungan usaha tani bawang merah berdasarkan generasi petani, menganalisis produktivitas modal, dan menganalisis sensitivitas usaha tani bawang merah terhadap penurunan produktivitas, penurunan harga output, dan kenaikan harga input produksi. Jumlah sampel dalam penelitian adalah 113. Metode analisis menggunakan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa total keuntungan petani generasi Y adalah yang tertinggi yaitu Rp 67.009.725,34/Ha, lalu keuntungan generasi baby boomer Rp 56.882.767,44/Ha, dan terakhir keuntungan petani generasi X yang terendah yaitu Rp 35.463.725,52/Ha. Produktivitas modal tertinggi ada pada petani generasi Y yaitu sebesar 74,13%, lalu generasi baby boomer sebesar Rp 57,71%, dan terakhir generasi X sebagai yang terendah Rp 33,86%. Pengujian statistik terdapat perbedaan yang signifikan antara produktivitas modal petani generasi Y dengan petani generasi X, sementara petani generasi baby boomer dengan X maupun baby boomer dengan Y tidak ada perbedaan produktivitas modal yang signifikan. Usaha tani bawang merah petani generasi X merupakan yang paling sensitif terhadap penurunan produktivitas, penurunan harga output, dan kenaikan harga input produksi. Nilai switching value petani generasi X sebagai yang terendah dibandingkan petani generasi baby boomer dan generasi Y.

The shallot farming business in Nganjuk district is undergoing a regeneration of farmers, with the participation of baby boomer, X, and Y generation farmers being the most dominant in terms of shallot production. There are differences in formal education and farming experience among each generation of farmers. Younger farmers have higher formal education but less farming experience, while older farmers have more experience but lower formal education. These differences in characteristics lead to different farming patterns, resulting in different farming feasibility among each generation of farmers. This study aims to analyze the costs, revenues, income, and profits of shallot farming based on farmer generation, analyze capital productivity, and analyze the sensitivity of shallot farming to declines in productivity, declines in output prices, and increases in input prices. The sample size in this study was 113. The analysis method used was descriptive with a quantitative approach. The results of the analysis show that the total profit of generation Y farmers is the highest, namely IDR 67,009,725.34/Ha, followed by the profit of the baby boomer generation at IDR 56,882,767.44/Ha, and finally the profit of generation X farmers, which is the lowest at IDR 35,463,725.52/Ha. The highest capital productivity was among generation Y farmers at 74.13%, followed by the baby boomer generation at 57.71%, and finally generation X with the lowest at 33.86%. Statistical testing shows a significant difference between the capital productivity of generation Y farmers and generation X farmers, while there is no significant difference in capital productivity between baby boomer farmers and generation X farmers or between baby boomer farmers and generation Y farmers. The onion farming business of generation X farmers is the most sensitive to declines in productivity, declines in output prices, and increases in production input prices. The switching value of generation X farmers is the lowest compared to generation baby boomer and generation Y farmers.

Kata Kunci : bawang merah, generasi petani, kelayakan usaha tani, sensitivitas

  1. S2-2026-526315-abstract.pdf  
  2. S2-2026-526315-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-526315-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-526315-title.pdf