QUANTIFYING THE EXPOSURE OF COASTAL ECOSYSTEM SERVICES TO EXTREME WAVES AND COASTAL EROSION HAZARD IN BANGKA REGENCY, INDONESIA
Taufik Budi Waskita, Dr. Bachtiar Wahyu Mutaqin, S.Kel., M.Sc.; Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Geografi
Erosi
pantai di Asia Tenggara semakin meningkat akibat kejadian gelombang ekstrem dan
aktivitas ekstraktif, khususnya pertambangan timah, yang mengganggu sistem
sedimen dan melemahkan ketahanan alami wilayah pesisir. Penelitian ini
menerapkan kerangka kerja sistem lahan pesisir berbasis geomorfologi pada skala
kabupaten (1:50.000) untuk menilai keterpaparan jasa ekosistem terhadap
gelombang ekstrem dan bahaya erosi pantai di Kabupaten Bangka, Indonesia.
Sistem lahan yang didefinisikan secara geomorfologis diintegrasikan dengan
indeks bahaya multikriteria (HIndex)
yang dimodifikasi dan diadaptasi dari kerangka BNPB, guna mengkuantifikasi
kapasitas jasa ekosistem (ESCap) dan
tekanan bahaya dalam satu kerangka spasial terpadu. Sebanyak dua puluh sistem
lahan pesisir diidentifikasi dan dievaluasi terhadap jasa penyediaan,
pengaturan, dan budaya menggunakan pendekatan pembobotan, sementara penilaian
bahaya mengintegrasikan faktor hidrodinamika, morfologi, dan antropogenik.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko pesisir yang luas, dengan 73,60 km²
dari total wilayah kajian seluas 1.387 km² tergolong dalam kelas bahaya sedang
hingga tinggi, serta tidak ditemukan segmen dengan tingkat bahaya rendah.
Sistem punggungan–cekungan pantai (beach ridge–swale) dan dataran
estuarin–sungai yang terkoalesensi menunjukkan kerentanan fisik tertinggi,
sementara rawa pasang surut dengan vegetasi halofitik memiliki kapasitas jasa
ekosistem tertinggi (ESCap = 0,845)
dan didominasi oleh tingkat bahaya sedang, yang menegaskan perannya sebagai
penyangga alami yang penting. Indeks ancaman jasa ekosistem terintegrasi (ESThreat) mengidentifikasi area seluas
1,33 km² dengan tingkat ancaman tinggi pada zona rawa pasang surut dengan ESCap tinggi, yang merupakan wilayah
prioritas karena degradasinya akan secara langsung melemahkan fungsi perlindungan
pesisir dan jasa pengaturan. Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian berbasis
geomorfologi pada skala kabupaten efektif dalam mengidentifikasi wilayah
prioritas konservasi dan zonasi sensitif risiko, serta mendukung pengelolaan
pesisir dan perencanaan tata ruang berbasis ekosistem guna menjaga
keberlanjutan fungsi ekosistem dan ketahanan masyarakat pesisir.
Coastal
erosion in Southeast Asia is increasingly intensified by extreme wave events
and extractive activities, particularly tin mining, which disrupt sediment
systems and weaken natural coastal resilience. This study applies a geomorphology-based coastal land system
framework at a regency scale
(1:50,000) to assess the exposure of ecosystem services to extreme waves
and coastal erosion in Bangka Regency, Indonesia. Geomorphologically defined
land systems were integrated with a modified multi-criteria hazard index (HIndex), adapted from the BNPB
framework, to quantify ecosystem service capacity (ESCap) and hazard pressure within a unified spatial framework.
Twenty coastal land systems were delineated and evaluated for provisioning,
regulating, and cultural services using a weighted scoring approach, while
hazard exposure incorporated hydrodynamic, morphological, and anthropogenic
drivers. The results indicate pervasive coastal risk, with 73.60 km² of the 1,387 km² study area classified as
moderate-to-high hazard and no areas identified as low hazard. Coastal beach
ridge–swale systems and coalescent estuarine–riverine plains exhibited the
highest physical vulnerability, whereas intertidal swamps under halophytic
vegetation showed the highest ESCap
(0.845) while remaining under predominantly moderate hazard conditions,
underscoring their function as critical natural buffers. The integrated
ecosystem service threat index (ESThreat)
identified 1.33 km² of
high-threat exposure within these high-ESCap
intertidal swamps, representing priority zones where ecosystem degradation
would most directly compromise coastal defense and regulating services. These
findings demonstrate that geomorphology-based,
regency-scale assessments are effective for identifying priority conservation
and risk-sensitive zoning areas, supporting ecosystem-based coastal management
and spatial planning aimed at sustaining both ecosystem function and community
resilience.
Kata Kunci : Coastal geomorphology; geomorphological land systems; ecosystem services; extreme waves; coastal erosion