Karisma Sebagai Operasi Kuasa: Logika Penjelasan Kritis Terhadap Kiai Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) di Tasikmalaya Pasca Reformasi
AKHMAD SATORI, Prof.Dr. Amalinda Savirani, M.A; Luqman nul Hakim, S.IP., M.A., Ph.D; Tapiheru Joash E.S., S.IP., M.A., Ph.D.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu Politik
Disertasi ini mengkaji secara kritis beroperasinya logika karisma dalam sebuah struktur wacana dengan melihat kontestasi wacana dan analisis logika fantasi dalam praktek artikulasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa karisma terbentuk secara struktural, yaitu melalui bangunan discourse yang berkembang dalam proses pertarungan artikulasi makna, bukan sebagai sesuatu yang melekat secara otomatis yang terbentuk melalui struktur budaya semata. Berangkat dari kritik teori otoritas karismatik Weber, penelitian ini menggugat asumsi Weber bahwa karisma merupakan kualitas pribadi yang hanya sekedar melekat pada individu, seakan-akan tidak membutuhkan konsensus terhadap struktur yang membentuk kualitas pribadi individu tersebut, yaitu kesepakatan antara subjek yang karismatik dengan pengikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa presuposisi bahwa standar kualitas individu bukan sesuatu yang terberi (given) dan yang menentukan standar kualitas itu bukan oleh individu yang bersangkutan tetapi dibentuk dan dikonstruksi secara sosial (socially constructed) dan selalu dimediasi oleh wacana (discursively mediated).
Dekonstruksi gagasan Karisma Weberian ini dilakukan dengan melalui kerangka Political Discourse Analysis (PDA) yang dikembangkan oleh Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. Dalam mengembangkan argumen diatas, penelitian ini menggunakan karya Ernesto (Laclau & Mouffe.) dengan mengelaborasi presuposisi Poststruktural Discourse Theory (PDT) yaitu radical contingency dan the primacy of political, serta kerangka analisis Logics of Critical Explanation (LCE) dari Jason Glynos dan David Howarth. Penggunaan pendekatan logika ini dimaksudkan; (1), untuk menggambarkan bagaimana bekerjanya logika karisma dalam realitas empiris, ; (2) mengungkapkan dimensi yang lebih bernuansa yang mendasari logika karisma dan juga landasan teoretisnya; (3) untuk mengatasi kritik terhadap defisit metodologis dan normatif teori Laclau dan Mouffe tentang wacana dan hegemoni; (4) untuk berkontribusi lebih lanjut untuk pengembangan PDT untuk penelitian empiris
Penelitian ini menggunakan teks, image, observasi dan transkrip hasil wawancara sebagai sumber utama. Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data dokumentasi bersumber dari arsip berita, observasi gambar, representasi media online/offline, laporan, jurnal-jurnal, buku literatur, internet maupun dokumen lain yang berhubungan dengan wacana karisma. Dalam penelitian ini manajemen, proses kodifikasi, dan display data penelitian dikelola dengan menggunakan Nvivo 12. Langkah dalam mengelola data penelitian ini adalah dengan membaca dokumen secara keseluruhan, dokumen didapatkan dari data-data merekam tema-tema kunci yang muncul.
Hasil penelitian menemukan bahwa karisma adalah konstruksi wacana yang partially fixed dan kontingen, bukan sifat bawaan individu. Karisma tidak hanya dilihat dari kualitas individu subjek Karismatik, tetapi dilihat dari kemampuan sebuah struktur karismatik tertentu mengkonstruksi wacana dan menciptakan konektifitas dengan fantasi dan ideologi yang bisa menutupi (covering up) -memanipulasi- keinginan (hasrat) para pengikut untuk mencapai kepuasan simbolik. Penjelasan kritis ini diperoleh dengan melihat karisma beroperasi melalui tiga logika, yaitu pertama, dalam logika sosial muncul konvergensi wacana, melalui pertemuan wacana agama, tradisi, dan politik pasca-Reformasi. Kedua logika politik, yaitu kontestasi dan perjuangan hegemonik melalui konstruksi “chain of equivalence”, dan logika fantasi tentang karomah, barokah dan komunitas yang harmonis dan terlindungi menjadi dasar retorika bagi relasi karismatik yang melahirkan kepatuhan.
Penelitian ini menemukan dua implikasi; pertama secara teoretis hasil penelitian ini menawarkan perspektif kritis untuk mendekonstruksi konsep karisma dalam ilmu sosial dan politik, bergerak dari pendekatan subjek-sentris, yang menganggap Karisma sebagai cultural entitlement dalam kajian source of power menuju analisis struktural-diskursif khususnya dalam power operational analysis Dan yang kedua, secara praktis hasil penelitian ini memberikan alat analisis untuk membaca relasi kuasa dalam masyarakat secara lebih kritis, dengan menyadari bahwa kepemimpinan Karismatik adalah hasil dari proses pembentukan makna yang spesifik melalui deskripsi operasi kuasa secara konkrit.
This dissertation critically examines the operation of charisma logic within a discourse structure by examining discourse contestation and analyzing the logic of fantasy in articulation practices. This research demonstrates that charisma is formed structurally, namely through the construction of discourse that develops in the process of struggles over the articulation of meaning, rather than as something inherently inherent and formed solely through cultural structures. Building on a critique of Weber's theory of charismatic authority, this research challenges Weber's assumption that charisma is a personal quality that is merely inherent in an individual, as if it does not require consensus on the structure that shapes that individual's personal quality, namely the agreement between the charismatic subject and their followers. This research demonstrates the presupposition that individual quality standards are not given and that they are determined not by the individual in question but are socially constructed and always discursively mediated by discourse.
This deconstruction of the Weberian notion of charisma is conducted through the framework of Political Discourse Analysis (PDA) developed by Ernesto Laclau and Chantal Mouffe. To develop the above argument, this study utilizes the work of Ernesto Laclau & Mouffe, elaborating on the presuppositions of Poststructural Discourse Theory (PDT), namely radical contingency and the primacy of politics, as well as the Logics of Critical Explanation (LCE) analytical framework by Jason Glynos and David Howarth. The purpose of this logical approach is: (1) to illustrate how the logic of charisma operates in empirical reality; (2) to reveal the more nuanced dimensions underlying the logic of charisma and its theoretical foundation; (3) to address criticisms of the methodological and normative deficits of Laclau and Mouffe's theory of discourse and hegemony; and (4) to further contribute to the development of PDT for empirical research.
This study uses text, images, observations, and interview transcripts as primary sources. The techniques used in collecting documentary data include news archives, image observations, online/offline media representations, reports, journals, literature, the internet, and other documents related to the discourse of charisma. In this study, the management, codification, and display of research data were managed using Nvivo 12. The steps in managing this research data included reading the documents in their entirety, obtained from the data to record key emerging themes.
The results of the study found that charisma is a partially fixed and contingent discourse construct, not an innate individual trait. Charisma is not only seen in terms of the individual qualities of the charismatic subject, but also in the ability of a particular charismatic structure to construct discourse and create connections with fantasies and ideologies that can mask and manipulate followers' desires to achieve symbolic gratification. This critical explanation is obtained by observing charisma operating through three logics: first, the social logic of discourse convergence, through the confluence of post-Reformation religious, traditional, and political discourses. Second, the political logic of contestation and hegemonic struggle through the construction of a "chain of equivalence," and the fantasy logic of charisma, blessings, and a harmonious and protected community, which forms the rhetorical basis for charismatic relations that engender obedience.
This study has two implications: First, theoretically, the results of this study offer a critical perspective for deconstructing the concept of charisma in social and political science, moving from a subject-centric approach, which views charisma as cultural entitlement in the study of sources of power, to a structural-discursive analysis, particularly in power operational analysis. Second, practically, the results of this study provide analytical tools for a more critical reading of power relations in society, recognizing that charismatic leadership is the result of a specific meaning-making process through a concrete description of power operations.
Kata Kunci : Karisma Kyai, Hegemoni, Nodal Point, Artikulasi Wacana, Power Operation, Penjelasan Kritis