Perilaku Remaja dalam Aksi Kriminalitas "Klitih" di Sleman Yogyakarta
Pandu Prasojo, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si
2026 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Fenomena kekerasan jalanan remaja atau yang lebih dikenal dengan istilah “klitih” di Sleman, Yogyakarta, telah berkembang menjadi masalah sosial yang kompleks. Klitih kini tidak lagi sekadar bentuk kenakalan remaja biasa, melainkan telah bertransformasi menjadi sarana eksistensi diri dan mekanisme pengakuan sosial di kalangan kelompok remaja di Yogyakarta. Hal ini menuntut pemahaman mendalam mengenai dinamika sosial dan kondisi psikologis yang menjadi latar belakang perilaku tersebut. Penelitian ini menganalisis tentang perilaku klitih menggunakan pisau analisis masalah sosial dan teori perubahan perilaku. Pendekatan ini dilakukan untuk membedah pemaknaan yang menjadi motivasi remaja melakukan kekerasan serta mengidentifikasi hambatan dalam proses perubahan perilaku mereka kembali ke normal sosial. Di sisi lain, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pendekatan mendalam (In-depth Interview) di wilayah Sleman dengan melibatkan informan kunci yang terdiri dari pelaku aktif, mantan pelaku, korban serta perwakilan dari institusi Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku klitih yang dilakukan oleh remaja dimaknai sebagai panggung pembuktian maskulinitas dan pencarian jati diri. Hasil temuan utama meliputi : (1) adanya budaya solidaritas kelompok (geng) yang bersifat toksik (toxic). Bagi mereka, keberanian melukai orang lain dianggap sebagai syarat penerimaan sosial. (2) Latar belakang keluarga yang mengalami disfungsi serta minimnya komunikasi menjadi pemicu alienasi remaja dari lingkungan rumah mereka. Terakhir, (3) penggunaan zat adiktif (pil sapi) dianggap sebagai stimulan keberanian remaja sebelum melakukan aksinya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanganan klitih memerlukan pendekatan struktural yang cenderung menyentuh akar budaya geng dan perbaikan fungsi keluarga. Bukan sekadar pendekatan melalui hukum secara represif.
The phenomenon of juvenile, street violence locally known as “Klitih” in Sleman Yogyakarta has evolved into a complex social issue. Klitih is no longer merely a form of ordinary juvenile delinquency but has transformed into a means of self-existence and a mechanism for social regonition among youth groups. This necessitates a profund understanding of the social and pyschological dynamics underlying such behavior. This study analyzes the behavior of klitih perpetrators using the frameworks of social problems and behavioral change theory. This approach is employed to dissect the meaning of adolescents motivating to commit violence, as well as to identify barriers in the process of changing their behavior back to social norms. This research employs a qualitative method with case study approach. Data collection was conducted through observations and in-depth interviews in the Sleman Area. Involving key informants consisting of active perpetrators, former perpetrators, the victim itself and relevant government officials. The findings indicate that klitih behavior is interpreted by its perpetrators as a stage for proving masculinity and searching for identity. Key finding including (1) the existence of a toxic gang (group), solidarity culture, where juvenile had courage to harm others is perceived as a prerequisite for social acceptance. (2) dysfunctional family backgrounds and lack of communication serve as trigger for adolescents that alignation from their home enviroment. And (3) juvenile current used addictive substances (such as “sapi” pills) that acts like stimulant for courage before taking action. This study concludes that adressing klitih, requires a structural approach touching upon the roots of gang culture and the restoration of family functions, rather than solely relying on repressive legal approaches.
Kata Kunci : klitih, kenakalan remaja, kekerasan jalanan, eksistensi sosial, Keluarga, Status sosial