Laporkan Masalah

Evaluating Decentralized Waste Management Policy Implementation in Sleman Regency after the Closure of Piyungan Landfill

Demastomi Putranda Saleh, Dr. Novi Paramita Dewi, SIP, MDP.

2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada tahun 2023 menandai gangguan kritis dalam sistem pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memaksa pemerintah daerah untuk dengan cepat beralih dari model yang bergantung pada TPA terpusat menuju sistem pengolahan sampah yang terdesentralisasi. Meskipun berbagai penelitian yang ada mengenai tata kelola sampah di Indonesia umumnya menekankan pada solusi teknis dan hasil lingkungan jangka panjang, perhatian terhadap bagaimana kapasitas kebijakan pada tingkat implementasi lokal memengaruhi pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah selama terjadinya gangguan sistem yang mendadak masih sangat terbatas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan dalam literatur yang ada dengan mengevaluasi implementasi jangka pendek dari kebijakan pengelolaan sampah terdesentralisasi pasca penutupan TPA Piyungan di Kabupaten Sleman. Kebijakan yang dievaluasi dalam penelitian ini tidak hanya merujuk pada peraturan tertulis yang bersifat formal, tetapi juga pada arahan eksekutif dan administratif yang dikeluarkan setelah penutupan TPA, termasuk Keputusan Gubernur Nomor 658/11898/2023 tentang pengaturan penanganan sampah serta arahan operasional Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memperluas dan mengoptimalkan fasilitas TPST dan TPS3R. Arahan-arahan tersebut secara kolektif mewajibkan terjadinya transisi dari ketergantungan pada TPA regional menuju pengolahan sampah lokal yang terdesentralisasi.

Dengan menggunakan pendekatan evaluasi implementasi kualitatif, penelitian ini mengadaptasi kerangka Monitoring and Evaluation (M&E) oleh Khandker et al. (2010), yang dioperasionalisasikan melalui pendekatan process-chain dari Bamberger et al. (2010). Analisis difokuskan pada tiga tahap implementasi, yaitu alokasi, input, dan output, dengan menggunakan analisis dokumen, wawancara semi-terstruktur, serta observasi lapangan. Aktor kebijakan utama yang dianalisis meliputi UPTD Sleman, operator TPST Donokerto, pengelola TPS3R, serta pemangku kepentingan masyarakat.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa tantangan implementasi tidak semata-mata berasal dari keterbatasan teknis, tetapi juga dari kesenjangan struktural dan koordinasi di berbagai tingkat tata kelola. Mandat kebijakan untuk desentralisasi tidak diiringi dengan alokasi anggaran yang memadai, kesiapan infrastruktur, maupun kapasitas kelembagaan yang cukup. Koordinasi antara arahan tingkat provinsi dan pelaksanaan di tingkat lokal masih terfragmentasi, sementara fasilitas berbasis masyarakat sebagian besar masih terbatas pada kegiatan pengumpulan sampah dan daur ulang dalam skala terbatas akibat ketidakpastian regulasi serta keterbatasan sumber daya. Akibatnya, output awal implementasi belum mampu mencapai target kebijakan meskipun terdapat urgensi politik yang kuat.

Penelitian ini berkontribusi pada literatur mengenai evaluasi implementasi kebijakan dan tata kelola lingkungan dengan menunjukkan bagaimana kebijakan pengelolaan sampah terdesentralisasi berkembang dalam kondisi krisis. Studi ini menekankan pentingnya mengevaluasi dinamika pada tingkat proses implementasi, bukan hanya hasil akhir, untuk memahami mengapa kebijakan yang dirancang dengan niat baik sering kali menghadapi kesulitan selama periode transisi. Temuan penelitian ini juga memberikan wawasan praktis untuk memperkuat implementasi kebijakan di tingkat lokal serta koordinasi antar tingkat pemerintahan dalam konteks pasca penutupan TPA.

The closure of Piyungan Landfill in 2023 marked a critical disruption in the waste management system of Yogyakarta Special Region, forcing local governments to rapidly transition from a centralized landfill-dependent model to decentralized waste processing. While existing studies on waste governance in Indonesia largely emphasize technical solutions and long-term environmental outcomes, limited attention has been paid to how policy capacity at the local implementation level shapes the execution of waste management policies during abrupt system breakdowns. This study addresses the gap in existing literature by evaluating the short-term implementation of the post-Piyungan landfill closure decentralized waste management policy in Sleman Regency. The policy evaluated in this research refers not only to formal written regulations, but also to executive and administrative directives issued after the landfill closure, including Governor’s Decree No. 658/11898/2023 on waste handling arrangements and Sleman Regency’s operational directives to expand and optimize TPST and TPS3R facilities. These directives collectively mandated a transition from regional landfill dependence toward decentralized local waste processing. Using a qualitative implementation evaluation, this study adapts the Monitoring and Evaluation (M&E) framework by Khandker et al. (2010), operationalized through Bamberger et al.’s (2010) process-chain approach. The analysis focuses on three stages of implementation allocation, inputs, and outputs drawing on document analysis, semi-structured interviews, and field observations. Key policy actors examined include the UPTD Sleman, TPST Donokerto operators, TPS3R managers, and community stakeholders. The findings reveal that implementation challenges stem not merely from technical limitations, but from structural and coordination gaps across governance levels. Policy mandates for decentralization were not matched by adequate budget allocation, infrastructure readiness, or institutional capacity. Coordination between provincial directives and local execution remained fragmented, while community-based facilities were largely confined to waste collection and limited recycling due to regulatory uncertainty and resource constraints. As a result, early outputs fell short of policy targets despite strong political urgency.

This study contributes to policy implementation evaluation and environmental governance literature by demonstrating how decentralized waste policies unfold under crisis conditions. It highlights the importance of evaluating process-level dynamics, rather than outcomes alone, to understand why well-intentioned policies struggle during transitional periods. The findings offer practical insights for strengthening local policy implementation and intergovernmental coordination in post-landfill-closure contexts.

Kata Kunci : Decentralized Waste Management, Local Government Capacity, Monitoring And Evaluation, Process Evaluation, Solid Waste Governance

  1. S1-2026-477515-abstract.pdf  
  2. S1-2026-477515-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-477515-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-477515-title.pdf