Stabilitas Agregat pada beberapa Penggunaan Lahan dan Kelas Lereng di Srimulyo, Piyungan, Bantul
Rafidah, Dr. Agr Makruf Nurudin, S.P., M.P; Dr. Ir. Eko Hanudin, M.P., IPU., ASEAN Eng
2026 | Tesis | S2 Ilmu Tanah
Stabilitas agregat tanah tidak terbentuk secara alami tanpa pengaruh lingkungan dan aktivitas manusia, melainkan sangat dipengaruhi oleh penggunaan dan pengelolaan lahan. Selain pengelolaan lahan, kelas lereng merupakan faktor topografi yang berperan penting dalam menentukan stabilitas agregat tanah. Penelitian ini dilakukan di Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran kelas agregat pada berbagai sistem penggunaan lahan dan kelas lereng. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji Nested Two-Way Anova dengan uji lanjut HSD tukey, yang mana faktor 1 adalah kelas lereng, dan faktor 2 adalah penggunaan lahan. Titik sampel ditentukan dengan 3 tipe pengelolaan lahan yaitu pengelolaan konvensional meliputi persawahan, pengelolaan konservasi meliputi tegalan dan pengelolaan agroforestri dengan 3 kelas lereng yaitu 0-8?ngan kategori datar, 8-15?ngan kategori curam dan 15- 30?ngan kategori sangat curam. Setiap titik sampel di ulang sebanyak 4 kali sehingga jumlah titik sampel pada penelitian ini yaitu 36 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stabilitas agregat tanah bervariasi menurut sistem pengelolaan lahan dan tingkat kelas lereng. Sistem pengelolaan lahan berbasis konservasi, khususnya agroforestri, menghasilkan stabilitas agregat yang lebih baik dibandingkan pengelolaan konvensional. Sifat fisik tanah berpengaruh nyata terhadap stabilitas agregat pada berbagai sistem pengelolaan lahan dan kelas lereng. Stabilitas agregat berkorelasi positif dengan porositas, permeabilitas, bahan organik dan berat volume tanah. Sebaliknya stabilitas agregat berkorelasi negatif dengan debu, kadar lengas dan pasir.
The formation of soil aggregate stability is influenced by land use and management. In addition to land use, slope class is a topographical factor that plays an important role in determining soil aggregate stability. This study was conducted in Srimulyo Village, Piyungan District, Bantul Regency. The purpose of this study was to determine the distribution of aggregate stability classes in various land use systems and slope classes. The method used in this study used the Nested Two-Way Anova test with the Tukey HSD further test, where factor 1 was the slope class, and factor 2 was land use. The sampling points were determined based on three types of land management, namely conventional management covering rice fields, conservation management covering dry fields, and agroforestry management, with three slope classes, namely 0-8% for the flat category, 8-15% for the steep category, and 15-30% for the very steep category. Each sampling point was repeated four times, resulting in a total of 36 sampling points in this study. The results of the study showed that soil aggregate stability varied according to the land management system and slope class. Conservation-based land management systems, especially agroforestry, produced better aggregate stability than conventional management. The physical properties of the soil had a significant effect on aggregate stability in various land management systems and slope classes. Aggregate stability is positively correlated with porosity, permeability, organic matter, and soil bulk density. Conversely, aggregate stability is negatively correlated with dust, moisture content, and sand.
Kata Kunci : Soil Aggregate Stability, Soil Physical Properties, Slope Gradient, Land Management